Kepala Dishub Provinsi Jatim Ungkap Strategi Ekspansi Transjatim 2026, di Tengah Keterbatasan Anggaran

Kepala Dishub Provinsi Jatim Dr. Nyono, menjelaskan, hingga saat ini anggaran pengelolaan transportasi massal masih stagnan di kisaran Rp250 miliar per tahun. (Foto : Dishub Prov Jatim)

FAKTA – Lonjakan minat masyarakat terhadap layanan Trans Jawa Timur sepanjang 2025 menjadi modal penting bagi pengembangan transportasi publik di Jawa Timur.

Dengan jumlah penumpang yang telah menembus 8 juta orang, Dinas Perhubungan Provinsi Jatim di bawah kepemimpinan Kepala Dishub Dr. Nyono mulai menyiapkan strategi ekspansi layanan pada 2026, termasuk menghadirkan skema bus premium non-subsidi sebagai jalan keluar di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Namun, di balik tingginya minat masyarakat, Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur dihadapkan pada tantangan klasik, keterbatasan anggaran. Untuk menyiasatinya, Dishub Jatim memilih langkah alternatif dengan meluncurkan Trans Jatim Luxury, layanan bus premium non-subsidi yang diharapkan mampu menjadi sumber pembiayaan baru tanpa membebani APBD.

Dr. Nyono, menjelaskan, hingga saat ini anggaran pengelolaan transportasi massal masih stagnan di kisaran Rp250 miliar per tahun. Anggaran tersebut harus menopang operasional delapan koridor Trans Jatim yang telah beroperasi.

“Bus reguler tetap menjadi tulang punggung layanan transportasi publik. Namun, layanan luxury ini kami dorong agar ekspansi bisa berjalan lebih mandiri melalui skema subsidi silang,” ujar Nyono, Kamis (08/1/2026).

Berbeda dengan bus reguler yang masih memungkinkan penumpang berdiri pada jam-jam sibuk, Trans Jatim Luxury menawarkan konsep kenyamanan penuh. Seluruh penumpang diwajibkan duduk, tanpa toleransi penumpang berdiri. Segmentasi ini menyasar pekerja dan masyarakat kelas menengah yang mengutamakan kenyamanan perjalanan.

“Semua duduk, tidak ada penumpang berdiri. Ini kami siapkan untuk pengguna yang membutuhkan perjalanan lebih nyaman,” jelasnya.

Dari sisi tarif, layanan luxury dipatok Rp30.000 untuk semua jarak. Meski lebih tinggi dibandingkan tarif reguler yang hanya Rp5.000, Dishub Jatim menilai harga tersebut masih kompetitif, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi yang rutin melakukan perjalanan antardaerah seperti Sidoarjo–Gresik.

Saat ini, sebanyak 16 unit bus Trans Jatim Luxury telah beroperasi. Pada 2026 mendatang, Dishub Jatim menargetkan penambahan delapan unit bus baru melalui kerja sama swasta murni tanpa subsidi pemerintah.

Strategi ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan, tetapi juga membuka ruang ekspansi koridor. Dishub Jatim telah menyiapkan rencana penambahan tiga koridor di kawasan Gerbangkertosusila, dua koridor di Malang Raya, serta masing-masing satu koridor di Kediri Raya, Jember, Madiun, Pamekasan, dan Bojonegoro.

“Dengan skema non-subsidi di koridor yang sudah mapan, jangkauan layanan bisa diperluas meski anggaran tetap,” tegas Nyono.

Sementara itu, untuk layanan transportasi laut, Dishub Jatim masih memantau kondisi Trans Laut Jatim. Saat ini, armada kapal cepat masih menjalani perawatan rutin sehingga operasionalnya sementara dihentikan.

Kapal cepat Trans Laut Jatim dijadwalkan kembali beroperasi pada akhir Januari 2026. Selama Surat Keputusan Gubernur terkait penetapan tarif baru belum diterbitkan, tarif promo masih akan diberlakukan.

“Selama dasar hukumnya belum berubah, tarif promo tetap berlaku,” pungkas Kepala Dishub Provinsi Jatim. (nyo)