Oleh Moh. Reza Anshori
Pengamat Budaya
Majalahfakta.id – Agama merupakan suatu bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati (supernatural). Keberadaan agama sudah ada sejak lama, dan menjadi bagian dari sejarah umat manusia.
Keterbukaan antara umat dengan agama yang beragam. Tidak peduli terhadap agama apa yang dianut, setiap orang selayaknya dapat saling menghargai satu dengan yang lain.
Tujuan dari toleransi beragama yaitu untuk membuat suasana atau situasi yang harmonis serta menciptakan kerjasama antar umat beragama.
Namun demikian, faktor penghambat ada beberapa hal. Yang pertama, semangat kekeluargaan yang menurun.
Kenapa demikian?? Karena sifat kekeluargaan yang menurun akan mengubah seseorang menjadi individualistis yaitu yang lebih mementingkan diri sendiri.
Faktor penghambat yang kedua adalah fanatisme agama. Cinta pada suatu agama memang boleh, tetapi juga tidak boleh berlebihan. Jika berlebihan, kita tidak akan menghargai perbedaan dan menutup diri terhadap kebenaran lain.
Dalam teks suci agama-agama besar dunia (sebut saja Kristen, Islam, Hindu, Budha, Zoroastrianisme, dll.) terdapat kepingan narasi kuno tentang kehadiran sosok penyelamat di satu titik di masa depan.
Narasi ini seperti informasi yang terus didaur ulang. Terus hadir di berbagai lapisan zaman dan peradaban manusia yang, walaupun berbeda nama, namun, tujuan dan substansi moral yang diusung sosok penyelamat yang dimaksud bisa dikatakan tetaplah sama.
Ya, sejak dahulu kala, informasi ini telah berhasil ditransmisikan ke dalam ingatan manusia dari waktu ke waktu – terintegrasi sebagai bagian dari doktrin keagamaan. Ini memang bagian dari sedikit oase dalam dunia keagamaan yang dapat membangkitkan harapan dalam aspek keimanan umat.
Namun di sisi lain, hal ini sering menjadi bahan penghinaan orang-orang sekuler. Bahkan, penghinaan semacam itu terkadang juga datang dari anggota komunitas agama itu sendiri – dari kelompok yang menganggap kepercayaan akan prediksi masa depan sebagai hal yang terlarang.
Sosok Sang Penyelamat itu disebut ‘Messiah’ dalam bahasa Ibrani dan ‘Crist’ dalam bahasa Yunani. Kedua sebutan ini sama-sama berarti “yang diurapi,” yaitu seseorang yang secara khusus dipilih oleh Tuhan dan diberi seperangkat kuasa demi kesuksesan misinya.
Dia akan menjadi demonstrasi terakhir dan bukti belas kasih Tuhan yang senantiasa ingin memperkenalkan umat manusia jalan hidup yang benar.
Bagi umat Hindu, sosok penyelamat yang ditunggu disebut ‘Kalki’, yang secara harfiah berarti: “melakukan segala sesuatu” / “kotor, penuh dosa”, hal ini menunjukkan bahwa sebelum akhirnya terlahir kembali sebagai avatar Wisnu, ia sebelumnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari melakukan kesalahan.
Dengan kata lain, ia akan mengalami “pencerahan” untuk terlahir kembali sebagai avatar Wisnu.
Bagi umat Buddha dia disebut ‘Maitreya’. Buddha Gautama menubuatkannya sebagai sosok Buddha di masa depan yang memiliki kemampuan tak terukur, terlahir kembali ke dunia dengan moral tertinggi dan kesalehan terdalam.
Dalam aliran Buddhisme Theravada disebutkan bahwa sebelum menjadi Buddha, ia adalah seorang bodhisattva yang berjuang untuk mencapai pencerahan penuh.
Bagi umat Islam dia disebut ‘al Mahdi’. Tradisi Islam meyakini bahwa al Mahdi akan datang ke dunia ini sebagai penyelamat di akhir zaman. Kata Mahdi berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang dibimbing dengan benar”, atau “yang mendapat hidayah“ atau dapat pula dimaknai “yang mendapat pencerahan”.
Kalangan Zoroastrian menyebutnya ‘Saoshyant’, secara harfiah berarti “orang yang membawa manfaat”. Seperti halnya sosok penyelamat dalam tradisi agama lain, Saoshyant dalam doktrin Zoroastrian juga diidentifikasi sebagai tokoh penyelamat eskatologis yang akan membawa Frashokereti, yaitu doktrin Zoroaster tentang renovasi akhir alam semesta, ketika kejahatan dihancurkan untuk selama-lamanya.
Tidak ketinggalan ajaran Taoisme juga membicarakan tentang sosok ‘Li Hong’, sosok mesianis yang muncul di akhir siklus dunia untuk menyelamatkan umat manusia.
Selain itu, ada juga istilah ‘Zhenren’ (secara harfiah berarti “manusia sejati”) yang dipercaya akan hadir di masa depan untuk memperbarui dunia. Zhenren dianggap sebagai “penguasa yang dikirim surga” atau “yang telah menerima Mandat Surgawi.”
Namun, menarik untuk mencermati apa yang disampaikan dalam naskah Nahjul Balagha, yang menggambarkan Al Mahdi sebagai berikut:
Dia, pada awalnya, akan menjadi seperti orang asing yang malang yang tidak dikenal dan tidak diperhatikan, sementara itu, Islam, berada dalam keadaan tak berdaya dan putus asa seperti seekor unta yang kelelahan yang telah meletakkan kepalanya dan mengibas-ngibaskan ekornya. (*)






