Oleh : Syafrial Suger *
Pada suatu pagi di tahun 2035, seorang siswa SMA di Parit Malintang bertanya sederhana kepada gurunya, di mana ia bisa melihat jejak sejarah Padang Pariaman, tentang pelabuhan kuno, ulama besar, emas dan lada, dan sejarah Tabuik yang selama ini hanya ia kenal lewat festival tahunan.
Sang guru terdiam. Ia membuka gawai, mengetik cepat, lalu menunjuk layar, arsip digital, potongan video, dan cerita yang tercerai-berai di internet. Tak ada satu ruang pun yang menyatukan semuanya. Tak ada museum.
Pertanyaan itu terdengar sepele. Namun di sanalah letak kegelisahan sebuah daerah pada 11 Januari 2026 ini berusia 193 Padang Pariaman, wilayah yang sejarahnya panjang, tetapi ingatannya rapuh.
Pelabuhan yang Hilang dari Peta Ingatan
Sejak abad ke-13 dan 14, Pariaman adalah pelabuhan dagang strategis di pesisir barat Sumatera. Pedagang Arab, Gujarat, dan Cina singgah di sini, menukar kain, keramik, dan rempah dengan emas dan lada dari pedalaman Minangkabau.
Nama Pariaman—yang dipercaya berasal dari frasa barri aman atau parit aman—menggambarkan fungsi itu: tanah yang aman dan pelabuhan yang ramah bagi dunia.Namun sejarah sering kalah oleh administrasi. Ketika VOC memusatkan aktivitasnya di Padang, pamor Pariaman meredup. Ia tak lenyap, tetapi tergeser. Yang tersisa kini adalah cerita lisan, fragmen arsip, dan ritual-ritual budaya yang terus hidup tanpa rumah sejarah yang layak.
Ulakan, Islam, dan Tradisi yang Bertahan
Padang Pariaman bukan sekadar simpul ekonomi masa lalu. Ia juga pusat awal penyebaran Islam di Sumatera Barat. Dari Ulakan, Syekh Burhanuddin menanamkan ajaran Islam yang kemudian menyatu dengan adat Minangkabau dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Dari sinilah lahir tradisi Malamang—memasak lemang dalam bambu—yang bukan sekadar kuliner, melainkan praktik sosial dan spiritual.
Tabuik, perayaan yang berakar pada sejarah wafatnya Husein bin Ali, tumbuh sebagai bentuk akulturasi agama dan budaya. Setiap tahun ia hadir megah di Kota Pariaman, tetapi jejak historisnya tercerai dari Kabupaten Padang Pariaman—wilayah induk yang kini beribu kota di Parit Malintang, sejak pemekaran tahun 2002.
Ironisnya, ketika Kota Pariaman memiliki festival yang mendunia, Kabupaten Padang Pariaman justru kekurangan ruang untuk menuturkan sejarahnya sendiri secara utuh.
Museum sebagai Penjaga Identitas
Di usia ke-193 ini, Padang Pariaman menghadapi pilihan strategis: membiarkan sejarahnya terus hidup dalam serpihan, atau merangkainya dalam sebuah museum sejarah dan budaya daerah. Museum bukan sekadar bangunan penyimpan benda lama. Ia adalah penjaga identitas, ruang edukasi, sekaligus alat politik kebudayaan.
Bagi generasi muda, museum adalah kelas alternatif—tempat belajar sejarah tanpa ceramah, menyentuh artefak tanpa harus percaya pada mitos. Bagi masyarakat, ia menjadi cermin kolektif: siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang hendak kita bawa ke masa depan.
Dalam konteks nasional, museum daerah berperan menumbuhkan nasionalisme dari akar lokal. Cinta Indonesia tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengenalan yang jujur atas sejarah sendiri.
Ekonomi, Pariwisata, dan Masa Depan
Museum juga memiliki dimensi ekonomi. Ia dapat menjadi magnet pariwisata budaya, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan menggerakkan ekonomi lokal—dari pemandu, perajin, hingga pelaku UMKM. Di banyak daerah, museum lokal menjadi simpul dialog antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan inovasi.
Lebih jauh, museum dapat menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia: melahirkan kurator, peneliti, edukator budaya—profesi yang selama ini nyaris absen di daerah. Ia juga selaras dengan agenda nasional seperti Gerakan Nasional Revolusi Mental: membangun etos kerja, integritas, dan kebanggaan kolektif.
Tantangan yang Nyata, Solusi yang Mungkin
Tantangannya jelas: keterbatasan anggaran, minimnya SDM profesional, dan risiko museum yang kaku serta tak relevan dengan zaman. Namun tantangan itu bukan alasan untuk menunda. Solusinya pun tersedia: kolaborasi dengan pemerintah pusat, perguruan tinggi, komunitas adat, dan sektor swasta; pengelolaan modern berbasis digital; serta kurasi yang hidup dan partisipatif.
Museum Padang Pariaman tidak harus megah. Ia harus jujur, inklusif, dan kontekstual—mengisahkan pelabuhan, ulama, ladang, tabuik, silat, tanah pusaka, dan kearifan menjaga alam.
Menunggu atau Menyusun Ingatan
Jika pada 2029 pertanyaan siswa itu masih tak terjawab, maka kegagalan bukan pada generasi muda, melainkan pada generasi hari ini. Museum adalah keputusan politik tentang apa yang dianggap penting untuk diingat.Di hari jadi ke-193 ini, Padang Pariaman sesungguhnya sedang berpacu dengan waktu.
Sejarahnya sudah ada. Budayanya masih hidup. Yang belum hadir hanyalah keberanian untuk merumahkan ingatan.
Karena daerah yang besar bukan hanya yang membangun jalan dan gedung, melainkan yang tahu cara menjaga ingatannya—sebelum ia benar-benar hilang.
*) Penulis adalah wartawan Majalah Fakta memiliki sertifikasi dari Dewan Pers






