Daerah  

Harga Gas Melon Menggila di Lumajang, Warga Mengadu di Medsos: Rp30 Ribu Pun Susah Didapat

Toko pengecer yang menjual LPG 3 kilogram di Kecamatan Pasirian. (Foto: Fuad Afdlol/majalahfakta.id)

FAKTA – Kelangkaan LPG 3 kilogram (gas melon) di Kabupaten Lumajang terus memicu gelombang keluhan masyarakat. Bukan hanya antrean panjang di lapangan, media sosial kini dipenuhi curahan hati warga yang kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai unggahan warga di grup komunitas media sosial memperlihatkan harga LPG melon yang melambung hingga Rp25 ribu bahkan Rp30 ribu per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp20 ribu yang ditetapkan pemerintah.

Salah satu keluhan datang dari Mistina, yang menuliskan pengalamannya saat membeli gas melon di wilayah Kecamatan Sukodono, yng ditujukan kepada Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah).

“Assalamualaikum bunda, mungkin bisa ditindaklanjuti terkait gas LPG melon yang sangat langka saat ini. Kalau ada pun harganya mencapai Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per tabung. Padahal HET yang ditetapkan pemerintah Rp20 ribu. Tadi pagi saya beli di daerah Kebonagung Rp27 ribu. Mohon tindak lanjutnya,” tulis Mistina dalam unggahannya akun media sosialnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Siti Aisyah, warga Desa Nguter. Ia mengaku meski harga sudah tinggi, gas melon tetap sulit ditemukan.

“Di desa Nguter Rp25 ribu, itu pun tidak ada barangnya,” tulisnya singkat.

Dugaan Gas Sudah “Tangan Kedua”. Di tengah keluhan warga, muncul pula komentar dari masyarakat yang mencoba menjelaskan kemungkinan penyebab harga gas melon melonjak.

Seorang warga bernama Ahmad Syafiuddin menilai harga tinggi kemungkinan bukan berasal dari agen resmi.

“Yang jual lebih dari Rp18 ribu itu pasti bukan dari agen resmi. Agen resmi tidak berani jual di atas Rp18 ribu. Itu pasti sudah tangan kedua,” tulisnya.

Menurutnya, agen resmi biasanya memiliki aturan distribusi yang ketat.

“Di tempat saya agen resmi jual Rp18 ribu, satu orang hanya boleh satu tabung,” tambahnya.

Dugaan Permainan Antar Toko. Komentar lain datang dari pemilik akun atas nama Martin Art Channel, yang menduga lonjakan harga terjadi karena gas melon berpindah-pindah tangan antar toko.

“Setahu saya kalau gas mahal, itu bukan dari agen langsung yang kirim ke toko. Tapi ada yang oper dari toko ke toko. Toko pertama jual Rp20 ribu, dibeli toko lain lalu dijual lagi Rp22 atau Rp23 ribu. Dibeli lagi oleh toko lain, dijual lagi sampai Rp26, Rp27 bahkan Rp30 ribu. Muter terus,” tulisnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian warga bahkan mencari gas ke desa lain, lalu menjual kembali dengan menambahkan biaya transportasi.

“Ada juga yang dari desa A cari gas ke desa B. Itu sudah dihitung modal, laba, dan uang bensin,” jelasnya.

Ada kritik untuk Pemerintah Daerah. Di tengah memanasnya keluhan masyarakat, kritik terhadap pemerintah daerah juga mulai bermunculan.

Salah satunya datang dari Andi Slamet, yang menilai pemerintah daerah seharusnya bisa lebih cepat merespons masalah kelangkaan gas melon.

“Harusnya Bupati bisa mengatasi masalah di masyarakat ini. Kan punya tim media yang membaca keluhan seperti ini. Tapi ya kembali lagi, namanya manusia banyak salahnya,” tulisnya.

Ia juga menyebut harga gas melon di warung sekitar tempat tinggalnya sudah mencapai Rp22 ribu per tabung.

Warga Menunggu Solusi. Gelombang keluhan di media sosial menunjukkan kelangkaan LPG 3 kilogram di Lumajang bukan lagi isu kecil, melainkan persoalan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gas melon yang seharusnya menjadi energi murah bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro kini justru semakin sulit dijangkau.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dan Hiswana Migas segera turun tangan, melakukan pengawasan distribusi dan menertibkan harga di lapangan.

Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin keluhan di media sosial akan berubah menjadi keresahan yang lebih besar di tengah masyarakat Lumajang, terutama bagi warga kecil yang menggantungkan dapurnya pada gas melon bersubsidi tersebut. (Fuad Afdlol)