FAKTA – Merespons kejadian yang terjadi di Wilayah Kebun Bah Jambi pada Agustus 2025 lalu, Forum Peduli Simalungun Jakarta (FPSJ) mengadakan rapat pada Rabu (7/1/2026) guna menentukan sikap tegas.
Dalam keterangan pers resmi yang ditandatangani oleh Ketua FPSJ, Darman Tua Purba S.Sos, dan Sekretaris Hardy G. Damanik SH, organisasi ini melayangkan tuntutan keras agar Budi Santoso segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Simalungun atas tindakan yang dinilai telah merusak martabat kebudayaan setempat.
Persoalan ini tidak hanya berhenti pada tuntutan maaf, namun meluas pada kritik terhadap kebijakan manajerial PTPN IV yang dinilai meminggirkan peran putra daerah. FPSJ dengan tegas meminta kepada Danantara maupun BUMN agar melakukan evaluasi mendalam dan mulai memberdayakan putra-putri terbaik Simalungun untuk menduduki posisi strategis sebagai Regional Head maupun Senior Executive Vice President (SEVP). Kekecewaan ini didasarkan pada fakta empiris bahwa selama enam tahun terakhir, tidak ada lagi representasi putra Simalungun yang menjabat sebagai SEVP di PTPN IV Regional II. Aspirasi ini merupakan upaya untuk mengembalikan kepemimpinan marwah lokal di tanah sendiri, mengingat kedekatan emosional dan kultural yang sangat diperlukan dalam mengelola aset negara di wilayah tersebut.
Selain masalah sumber daya manusia, Ketua Forum Peduli Simalungun Jakarta, Darman Tua Purba, juga menyoroti perubahan bentang alam di Kecamatan Sidamanik yang kian diabaikan. Ia mendesak PTPN IV Regional II untuk segera menghentikan ekspansi tanaman sawit dan mengembalikan fungsi lahan tersebut menjadi perkebunan teh. Kebijakan ini dianggap krusial karena Sidamanik bukan sekedar komoditas ekonomi, melainkan ikon yang telah mendunia dan menjadi identitas yang tak terpisahkan dari Kabupaten Simalungun. Bersamaan dengan itu, FPSJ menuntut transparansi dan ketepatan sasaran dalam penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Simalungun, termasuk melibatkan serta memberdayakan para pengusaha lokal dalam ekosistem bisnis PTPN IV.
Langkah politik dan kebudayaan yang diambil oleh FPSJ ini bukanlah hal yang utama, karena hasil rapat tersebut telah dikonsultasikan dan disampaikan kepada jajaran tokoh nasional asal Simalungun di Jakarta, seperti Prof. Dr. Bungaran Saragih, Darwan Purba, Junimart Girsang, hingga Marsiaman Saragih. Sebagai penutup pernyataannya, Darman Tua Purba meminta dukungan kolektif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat dan Partuha Maujana Simalungun, untuk bersatu mengawali tuntutan ini demi masa depan tanah kelahiran. Di sisi lain, bungkamnya manajemen PTPN IV menambah teka-teki dalam konflik ini.
Saat dikonfirmasi pada Jumat (9/1/2026), Kabag Humas PTPN IV Medan, Ridho Nasution, enggan berkomentar dan mengalihkan pertanyaan kepada Sekretaris Kebun, Hari Pratama, yang hingga berita ini diturunkan juga belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan masyarakat tersebut. (S. Hadi Purba)






