
SOSOK Kepala Desa (Kades) Ngringinrejo, Endang Sri Wigati MPd, walaupun perempuan tetapi jiwa ksatrianya tidak setengah hati. Demi warganya, ia mencurahkan seluruh pikiran, harta dan tenaga. Alasannya yang kokoh adalah “demi keselamatan dan kesehatan warganya”.

“Saya sebagai ibu bagi warga Desa Ngringinrejo akan semaksimal mungkin mencurahkan dan mempertaruhkan segalanya supaya warga kami tidak terjangkit pandemi Covid-19, yang tak terlihat oleh mata, tak bisa diraba, tetapi membahayakan bagi manusia ini. Maka kami selalu berusaha untuk menyikapi dengan penuh toleransi tetapi tetap waspada. Ngringinrejo dikepung musuh yang tak terlihat namun membahayakan jiwa, sehingga kita harus menyelamatkan dan memutus mata rantai penyebaran virus Corona melalui penjagaan dan sterilisasi. Berawal dari keluhan warga yang merasa resah karena jalan desanya dilewati kendaraan roda dua sampai truk yang notabene berasal dari zona merah yang terkadang singgah di toko dan warung desa kami, sehingga warga menjadi khawatir. Oleh karena itu, atas kesepakatan dari warga, ketua RT, tokoh masyarakat, dan pemdes, serta setelah koordinasi dengan Forpimcam Kalitidu, Forpimcam Trucuk, Kades Padang, Perum Jasa Tirta, juga Ibu Bupati Bojonegoro, telah memberi ijin/menyetujui untuk membatasi/menutup akses jalur masuk dari Bendung Gerak menuju Desa Ngringinrejo. Sehingga pembatasan akses tersebut sudah melalui prosedur yang sesuai dan dengan dasar yang jelas, karena kondisi sekarang merupakan KLB (Kejadian Luar Biasa) dan pembatasan/penutupan ini bersifat sementara, hanya selama pandemik Covid-19. Perlu diketahui, jalan masuk dari Bendung Gerak ke desa kami, murni jalan poros desa, bukan jalan antar kecamatan atau antar kabupaten. Begitu pula sebenarnya jembatan Bendung Gerak hanya merupakan jalan Inspeksi yang fungsinya untuk pengamanan air, untuk kegiatan operasi, dan pemeliharaan infrastruktur Bendung Gerak itu sendiri. Namun kami masih memberi kesempatan pengguna roda dua yang dari desa seberang selain zona merah untuk lewat. Selama bertahun‐tahun warga kami tidak pernah protes karena terkena polusi baik bising maupun debu, karena dari Bendung Gerak menuju ke jalan desa kami dilewati kendaraan dari roda dua sampai truk-truk besar tepat di depan rumah warga. Namun saat kami butuh untuk dapat memahami keluhan warga kami kok malah dipermasalahkan. Sabar. Semua kami lakukan demi warga, ora cemit ora cemeng. Alhamdulillah warga Desa Ngringinrejo kesadaran serta kebersamaannya tinggi,” jelas Kades Sri Wigati kepada Wartawan Majalah FAKTA (Ekopurnomo).

“Kalau kisah pewayangan, kami memang suka tokoh Srikandi yang kebetulan ada kesamaan nama sedikit, nama kami Sri Wigati. Srikandi tidak menyukai pemimpin seperti Kumbayana yang suka lempar batu sembunyi tangan alias pemimpin yang tidak bijak, bukan kurang bijak. Apalagi ala Dursasana, suka rame ajang. Kalau Kresna kami suka, karena tetap berpikir, berkehendak demi warganya, tidak plin-plan, juga tidak mengandalkan ego. Orangtua kami berwasiat, jadi pemimpin harus waspada dan bijaksana dan bisa ‘cegah lek” yang artinya minimal tidur di atas jam 12 malam. ‘Ojo leno lan ora perlu grusa-grusu, becik ketitik olo ketoro, lan ojo dumeh, tapi dermo weweh yen murakapi’. Oleh karena itu, demi warga, kami rela melakukan apa pun konsekuensinya. Melatih diri senyum di bibir juga senyum di hati, karena manusia adalah sebaik-baik ciptaan-Nya, tidak boleh ‘adigang, adigung, adiguno, sopo sira sopo ingsung’. Tetapi belajarlah sebagai pemimpin yang ‘ing ngarso sung tuladha ing madya mangun karso, tut wuri handayani,”, ungkap Bu Kades yang memiliki satu putra berfilosofi Jawa ini.

“Ibu kades memang pemberani tapi sesuai koridor, bijaksana, tanggung jawab, penyayang, penyabar, rela dan ikhlas berkorban demi rasa tanggung jawabnya kepada warga. Prinsipnya, memimpin itu punya tanggung jawab dunia akhirat, serta melaksanakan amanah warga. Ternyata jika hati ikhlas, damai juga hati ini,” ungkap para perangkat desanya kepada FAKTA. (F.463)






