Majalahfakta.id – Kelinci merupakan ternak yang dapat menghasilkan daging, bulu (fur), dan pupuk kandang (fertilizer). Disamping itu dapat dimanfaatkan sebagai kelinci hias/fancy dan hewan percobaan di laboratorium.
Kelebihan ternak ini adalah siklus reproduksi cepat, termasuk ternak profilik (banyak anak tiap kelahiran), dagingnya mengandung kolesterol rendah sekira 0.1%. Hal itu membuat komoditas daging kelinci berpotensi tinggi diserap pasar nasional.
Bersumber pada data statistik peternakan (2020) daging kelinci mampu menyumbang kebutuhan daging nasional sekira 500 ton per tahun pada tahun 2016-2018. Kemudian mengalami peningkatan ditahun 2019 dan 2020 menjadi 700 ton tiap tahunnya.
Hal itu menciptakan peluang pengembangan usaha ternak kelinci meski terdapat kendala pada harga pakan yang mahal. Sebab pakan komersial yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi sebagian besar dibuat dalam bentuk pelet. Dimana komposisi bahan pakannya didominasi oleh produk impor seperti pollard dan bungkil kedelai.
Mencermati permasalahan itu, dosen minat Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Heli Tistiana, S.Pt.,M.P memberikan solusi dengan membuat pellet menggunakan bahan baku lokal dari leguminosa. Yakni tanaman nila atau indigofera yang memiliki kelebihan tahan kekeringan, mudah tumbuh, dan berproduksi cukup bagus. Serta mengandung protein kasar sebesar 24,2% hingga 24,57% yang berpotensi sebagai bank protein hijauan pakan ternak.
Akan tetapi, menurut Heli pemberian indigofera dalam bentuk segar dapat mengganggu metabolisme dan perkembangan ternak. Maka perlu perlakuan terlebih dahulu seperti pelayuan, pengeringan, dan perlakuan lain yang bisa mengurangi aktifitas zat anti nutrisi (tanin, saponin, dan indospine) di dalam indigofera.
Dia bersama tim promotor Prof. Hartutik, Dr. Eko Widodo, dan Dr. Irfan H.Djunaidi, melakukan penelitian berjudul “Potensi Tepung Daun Indigofera (Indigofera zoliingeriana Miq.) sebagai Pengganti Pollard dan Bungkil Kedelai dalam Pakan Bentuk Pelet terhadap Performen Kelinci New Zealand White.”
Penelitian tugas akhir disertasi itu terdiri dari tiga tahapan, pada tahap pertama dilakukan evaluasi jenis pakan dengan panjang pelet yang berbeda terhadap sifat fisik pelet dan penampilan produksi. Tahapan selanjutnya mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung daun indigofera dalam pakan sebagai pengganti pollard dan bungkil kedelai terhadap kecernaan zat makanan. Pada tahap akhir, mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung daun indigofera dalam pakan sebagai pengganti pollard dan bungkil kedelai terhadap sifat fisik pelet, konsumsi pakan, PBB, konversi pakan, IOFC, dan persentase karkas.
Berdasarkan hasil tahapan-tahapan penelitian tersebu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan indigofera sebesar 20% dengan panjang pelet medium (1,2 cm) memberikan hasil terbaik berdasarkan sifat fisik pelet dan performen. Sementara potensi penggunaan level indigofera sebagai pengganti pollard dan bungkil kedelai hingga level 30% memberikan pengaruh yang sama terhadap sifat fisik, performan, persentase karkas, kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), kecernaan protein kasar (KcPK), kecernaan serat kasar (KcSK) dan kecernaan lemak kasar (KcLK).KcBK, KcBO dalam pakan.
Heli tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Ternak di Fapet UB, dan memperoleh gelar Doktor (Dr) usai dinyatakan lulus ujian disertasi oleh Prof. Suyadi selaku ketua sidang sekaligus Dekan, Rabu (8/12/2021). Ujian terbuka disertasi dilakukan dengan metode hybrid yakni perpaduan antara daring dan luring. (mud)






