FAKTA – Industri pariwisata Kota Batu tengah berada di persimpangan jalan. Setelah dihantam penurunan jumlah kunjungan yang signifikan sepanjang tahun 2025, para pemangku kepentingan (stakeholders) pariwisata berkumpul dalam sebuah acara Sarasehan, Diskusi dan Buka Bersama 2026, dengan tema “Bertahan atau Menyerang”, yang berlangsung di Royal 360 Oleh-oleh Jl. Ir Sukarno, Beji, Kota Batu, pada Senin (9/3/2026).
Kegiatan Sarasehan ini digagas oleh Batu Guide Community, bersama DPC HPI Kota Batu, dan juga mengundang Dinas terkait Pemerintah Kota Batu, DPRD Kota Batu, rekan-rekan Insan Pariwisata Malang Raya yang mencakup Biro, Guide, Tour Leader (TL), Driver, terus seluruh vendor-vendor yang terkait dengan kegiatan di pariwisata.
Ketua Panitia Sarasehan, Ananta Rizali Sukmansyah, mengungkapkan data yang cukup mengejutkan. Pada tahun 2024, Kota Batu sukses menyedot 11 juta wisatawan. Namun, angka tersebut merosot tajam sekitar 11% menjadi hanya 9,5 juta pengunjung pada tahun 2025.
“Penurunan ini menciptakan efek domino. Tidak hanya jumlah orang yang berkurang, tapi setoran pajak daerah dan pendapatan pelaku usaha juga ikut merosot. Kita harus segera menemukan solusi taktis untuk membalikkan keadaan di tahun 2026 ini,” ujar Rizal sapaan akrabnya.
Sebuah perspektif menarik dari salah satu pelaku usaha pariwisata, Wulandari dari Plankton Labiru Tour. Ia menegaskan bahwa tahun 2026 yang secara astrologi Tiongkok merupakan tahun Kuda Api, yang menuntut semangat energi akselerasi, fokus, dan tidak bertele-tele.
“Pilihannya hanya dua, yakni bertahan atau menyerang. Secara internal keuangan mungkin kita harus bertahan (survive), tapi secara aksi, kita wajib menyerang. Kita harus menjemput bola dengan promosi yang masif dan tepat sasaran,” tegas Wulandari.
Ia juga menyoroti fenomena “perang harga” yang kerap menjebak pelaku usaha. Menurutnya, bersaing di harga di tengah kenaikan biaya operasional (seperti harga beras dan bahan pokok) adalah langkah yang kurang tepat.
“Jangan dengan persaingan harga, tapi yang lebih tepat adalah bersaing value (nilai). Kualitas pelayanan dan pengalaman unik jauh lebih penting daripada sekadar murah. Kita butuh revenue yang bertumbuh, bukan sekadar jumlah tamu yang banyak tapi perusahaan stagnan,” tambahnya.
Acara yang dihadiri oleh Dinas Pariwisata Kota Batu, DPRD, Pelaku Usaha Pariwisata, Batu Guide Community, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), hingga vendor transportasi ini memuncak pada penandatanganan Pakta Integritas. Dokumen ini bukan sekadar seremoni, melainkan peta jalan (road map) penyelamatan pariwisata Batu yang mencakup beberapa poin krusial, yakni:
- Dinas Pariwisata (Disparta)
Program pariwisata disesuaikan dengan visi dan misi Wali Kota. Fokus program meliputi pengembangan kebudayaan, peningkatan SDM pariwisata, pengembangan destinasi wisata, serta promosi wisata. Semua program membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. - Pelaku Usaha Pariwisata
Beberapa sektor pariwisata seperti oleh-oleh, catering, transportasi wisata, dan hotel mengalami penurunan pendapatan sekitar 30-40%. Untuk mengatasinya, pelaku usaha mencoba berinovasi dan memperluas target pasar. - Tour & Travel / Labiru Tour
Walaupun ada penurunan di beberapa sektor, ada juga perusahaan tour yang mengalami pertumbuhan karena fokus pada pelayanan wisata dan pengalaman yang diberikan kepada tamu. - Event Organizer (EO)
Event dapat menjadi cara untuk menarik wisatawan. EO dapat bekerja sama dengan hotel, restoran, dan tempat wisata. Namun diperlukan dukungan dan regulasi dari pemerintah agar event lebih mudah diselenggarakan. - Ide Pengembangan Wisata
Beberapa ide yang disampaikan antara lain:
Pengembangan wisata gastronomi (kuliner)
Program walking tour dengan storytelling sejarah kota
Kegiatan wisata tematik di desa-desa
Event komunitas seperti komunitas mobil klasik atau vespa - Masalah yang Dihadapi Guide Pariwisata
Guide pariwisata termasuk pekerja rentan karena pekerjaan mereka berisiko dan belum memiliki perlindungan yang cukup. Mereka berharap adanya perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja. - Peran Pemerintah dan DPRD
Diperlukan percepatan penetapan RIPPARDA (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah) agar kebijakan dan anggaran pariwisata lebih jelas serta dapat mendukung perkembangan pariwisata Kota Batu.
Pariwisata Kota Batu perlu inovasi, kerja sama antar pelaku wisata, penyelenggaraan event, serta dukungan kebijakan dari pemerintah agar dapat berkembang dan meningkatkan jumlah wisatawan.
Diskusi ini menjadi alarm bagi seluruh elemen di Kota Wisata Batu. Melalui sinergi ini, di tahun 2026 Kota Batu optimis dapat kembali memikat hati wisatawan. Fokusnya kini bagaimana menciptakan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (F.1116)






