Buku Biografi Toga Hitam Chairul S Matdiah dalam buku keduanya, Bukan Sekadar Setelan Jas: Seni Menjadi Pengacara Perlente ala Chairul S Matdiah

FAKTA – Jika pengadilan adalah sebuah panggung teater, maka Chairul S Matdiah adalah aktor utama yang tahu cara mencuri perhatian bahkan sebelum ia membuka mulut. Di tengah kerumunan pengacara yang terjebak dalam zona nyaman jas hitam standar, Chairul muncul bagaikan percikan warna yang berani. Ia adalah definisi hidup dari pengacara perlente yang memadukan hukum dengan gaya hidup kelas atas.

Bagi Chairul, setelan jas bukanlah sekadar seragam kerja. Itu adalah zirah atau pakaian pelindung tubuh. Saat pengacara lain mungkin memilih jalan aman dengan warna hitam konvensional, Chairul berani bermain di spektrum (jangkauan) yang berbeda. Jas-jas dengan potongan tailored (pakaian yang dibuat khusus) yang pas di badan, kemeja dengan kerah kaku yang sempurna, hingga pilihan warna yang tajam seperti biru elektrik atau abu-abu metalik menjadi pernyataan tanpa suara. Ia adalah orang yang detail.

Ia tidak memakai jas konveksi yang lengannya kepanjangan. Stelan jasnya adalah Zegna, merek pakaian mewah asal Italia, dan dikenal sebagai salah satu produsen pakaian pria terbaik di dunia, dengan potongan slimfit (gaya pakaian yang pas dan ketat, tetapi tidak terlalu ketat, sehingga menonjolkan bentuk tubuh yang ramping), yang mengikuti gerak tubuhnya sepresisi argumen hukumnya.

Setelan jas lengkap itu dipadu dengan dasi motif kotak-kotak dan sepatu pantofel merek Louis Vuitton. Untuk semakin menambah kepercayaan diri, di pergelangan tangannya melingkar jam tangan Rado Kuning Tipe G, salah satu model jam tangan yang cukup populer.

Rado dikenal sebagai produsen jam tangan mewah asal Swiss yang menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi, seperti keramik dan baja tahan karat. Pada tahun 1997, Rado adalah jam mewah dan mahal, dan hanya dipakai orang-orang tertentu. Itu baru satu mereka jam mewah. Ada lagi koleksi jam mewahnya seperti Richard Mille, Rolex, Franck Muller dan Bvlgari.

Pakaian itu selalu dikenakan saat membela perkara, atau berjumpa klien baik di kantor maupun saat bersidang di pengadilan. Fashion itu memang sangat cocok dikenakan Chairul, mengingat perawakan tubuhnya proporsional. Wibawa dan kharisma juga semakin terpancar sebagai advokat yang handal.

Kerapian ini bukan tanpa alasan. Di dunia hukum yang penuh tekanan, penampilan perlente adalah bentuk kendali diri.

“Jika penampilanmu rapi, pikiranmu biasanya juga rapi,” bisik kesan yang ia tinggalkan di benak setiap orang yang berpapasan dengannya.

“Tuntutan profesi kadangkala mengharuskan saya harus tampil perfect (sempurna), termasuk juga dalam hal berpakaian dan aksesoris lain,” sambungnya.

Gaya perlente ini tidak berhenti di penampilan. Ada ritme yang terjaga dalam caranya berjalan menyusuri lorong pengadilan. Ia tidak terburu-buru. Setiap langkahnya tenang, seolah-olah ia adalah pemilik gedung tersebut.

Saat berbicara, suaranya bariton dan tertata. Ia tidak perlu berteriak untuk mendominasi ruang sidang. Ia menggunakan jeda bicara seperti seorang konduktor musik menggunakan tongkatnya, memberi tekanan pada poin-poin krusial sementara jari-jarinya sesekali merapikan letak sapu tangan (pocket square) di saku dadanya yang selalu tegak lurus.

Banyak yang mencibir, menganggap gaya ini hanyalah pamer kemewahan. Namun bagi si pengacara perlente, citra adalah instrumen kepercayaan. Di dunia di mana persepsi adalah kenyataan, penampilan yang tajam mencerminkan pikiran yang tajam pula.

Bukan kesan sombong yang ingin ditunjukkan dengan penampilan seperti itu, namun hanya ingin terlihat agar profesi pengacara tidak dipandang sebelah mata oleh siapa pun.

“Klien tidak membayar saya hanya untuk membaca pasal. Mereka membayar saya untuk ketenangan pikiran. Dan ketenangan itu dimulai dari bagaimana saya membawakan diri,” katanya.

Baginya, hukum adalah panggung besar, dan ia menolak tampil dengan kostum yang biasa-biasa saja. Di tangan pengacara perlente, sebuah kasus hukum bukan lagi sekadar tumpukan berkas kusam, melainkan sebuah drama elegan yang diselesaikan dengan keanggunan.

Meski dikenal pengacara perlente, Chairul tetap rendah hati. Termasuk dalam hal penyelesaian perkara kelas ‘teri’ maupun kelas kakap. Baginya, membela perkara bukan hanya soal uang, namun juga peroalan kemanusian dan tegaknya rasa keadilan terhadap mereka yang mengalami kezaliman atau pencari kebenaran.

“Sepanjang bisa dibantu harus dibantu, jangan hanya berorientasi terhadap besaran bayaran dari klien, karena pengacara adalah profesi yang sangat mulia,” kata Chairul.

Filosofi di Balik Kemewahan

Banyak yang mungkin melihat gaya Chairul sebagai simbol kemewahan belaka. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ini adalah strategi psikologis. Dalam negosiasi tingkat tinggi atau persidangan yang panas, penampilan yang “mahal” menciptakan tekanan mental bagi lawan. Ia menunjukkan bahwa ia adalah pemenang bahkan sebelum palu hakim diketukkan.

Chairul S Matdiah telah mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai praktisi hukum yang handal, tetapi juga sebagai ikon gaya di dunia advokasi. Ia membuktikan bahwa di balik pasal-pasal yang rumit dan kaku, ada ruang untuk keanggunan. Di tangannya, hukum tidak lagi terasa membosankan, hukum menjadi sebuah pertunjukan kelas atas yang penuh karisma.

Gaya perlente Chairul tidak berhenti di pintu ruang sidang. Deretan mobil mewah yang kerap menyertainya bukan hanya alat transportasi, melainkan pernyataan posisi. Baginya, seorang pengacara sukses harus memancarkan aura kesuksesan itu sendiri.

Bagi Chairul, kendaraan bukan sekadar alat transportasi dari kantor ke pengadilan. Deretan mobil premium yang sering dikaitkan dengan sosoknya mulai dari Jaguar XF, Mercedes Benz GL 400, Toyota Alphard Tife G, Toyota Camry dan BMW X6 adalah perpanjangan dari identitasnya. Saat ia turun dari pintu mobil yang terbuka perlahan, dengan sepatu kulit yang menyentuh aspal secara mantap, ia sedang mengirimkan pesan kepada publik: Inilah standar seorang profesional yang sukses.

“Orang melihat kita pertama kali dari bungkusnya. Mungkin begitulah filosofi yang tersirat. Di balik kemewahan itu, ada pesan psikologis kepada lawan. Saya siap bertarung dengan sumber daya yang tak terbatas,” katanya.

Saat ia mulai bersuara di depan majelis hakim, gaya perlentenya menyatu dengan retorika yang tenang namun tajam. Ia tidak meledak-ledak tanpa arah, ia menyerang dengan presisi, sesekali membetulkan letak kacamata bermereknya sebelum melontarkan pertanyaan kunci yang memojokkan saksi.

Di dunia hukum yang kaku, Chairul S Matdiah membuktikan bahwa menjadi cerdas tidak harus tampil membosankan. Ia merayakan hukum dengan keanggunan, menjadikan setiap kehadirannya di pengadilan sebagai sebuah peristiwa mode yang dibalut argumen konstitusi.

Di bawah sorotan lampu kamera dan kepungan mikrofon wartawan, Chairul adalah seorang maestro komunikasi. Ia tidak pernah tampak gugup atau terburu-buru. Dengan gaya bicaranya yang tertata seringkali diselingi senyum tipis yang penuh teka-teki. Ia mampu menyederhanakan pasal-pasal rumit menjadi narasi yang mudah dicerna publik.

Cara ia membetulkan letak kacamata bermereknya sebelum menjawab pertanyaan sulit, atau caranya menyesap air mineral dengan gerakan yang tenang, menunjukkan bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi. Ia tidak hanya bicara soal hukum, ia bicara soal keyakinan. Di depan media, ia adalah kombinasi antara pengacara yang cerdik dan bintang panggung yang tahu persis di mana kamera berada.

Banyak yang mungkin melihat gaya Chairul sebagai simbol kemewahan belaka. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ini adalah strategi psikologis. Dalam negosiasi tingkat tinggi atau persidangan yang panas, penampilan yang “mahal” menciptakan tekanan mental bagi lawan. Ia menunjukkan bahwa ia adalah pemenang bahkan sebelum palu hakim diketukkan.

Chairul S Matdiah telah mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai praktisi hukum yang handal, tetapi juga sebagai ikon gaya di dunia advokasi. Ia membuktikan bahwa di balik pasal-pasal yang rumit dan kaku, ada ruang untuk keanggunan. Di tangannya, hukum tidak lagi terasa membosankan, hukum menjadi sebuah pertunjukan kelas atas yang penuh karisma. (***Jaya)