Ekbis  

BI Sulbar Gelar Kegiatan SIPAKADA MEDIA, Paparkan Resilien di Tengah Dinamika Global

Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam rangka Diseminasi Perekonomian Terkini Triwulan I 2026 yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. (foto: Ammank-007)

‎FAKTA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat menggelar kegiatan SIPAKADA Media (Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam rangka Diseminasi Perekonomian Terkini) Triwulan I 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada, 18 Februari 2026 di The Noon Cafe Mamuju tepatnya di Jalan Soekarno Hatta, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

‎Dalam forum tersebut, BI memaparkan potret optimisme ekonomi Sulawesi Barat yang tetap resilien di tengah dinamika global.

‎‎Berdasarkan data yang dipaparkan, ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan IV 2025 mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 6,55% (yoy). Angka ini secara signifikan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,39% (yoy).

Keberhasilan ini utamanya ditopang oleh tiga sektor kunci:

‎1.Pertanian: Didorong oleh peningkatan produksi padi, Tandan Buah Segar (TBS) sawit, dan subsektor peternakan.

‎2.Perdagangan: Tumbuh positif seiring lancarnya aliran komoditas perkebunan dan pangan.

‎‎3.Administrasi Pemerintahan.

‎Meski demikian, BI mencatat adanya tantangan pada sektor industri pengolahan akibat melambatnya permintaan ekspor turunan CPO, serta kontraksi di sektor konstruksi menyusul penurunan realisasi belanja modal pemerintah pada akhir tahun lalu.

‎‎Dari sisi harga, per Januari 2026, Sulawesi Barat mencatatkan inflasi sebesar 0,71% (mtm) atau 4,34% (yoy). Kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah menjadi penyumbang utama. Sebaliknya, komoditas ikan laut dan emas perhiasan justru memberikan andil deflasi.

‎Di sektor perbankan, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan pertumbuhan kredit mencapai 6,87% (yoy) pada akhir 2025. Namun, BI memberikan catatan strategis terkait tingginya rasio Loan to Deposit Ratio (LDR).

‎‎“Perlu penguatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di daerah untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan dari luar wilayah,” tulis laporan tersebut.

‎Menatap tahun 2026, BI memproyeksikan ekonomi Sulbar akan tumbuh pada kisaran 5,0% hingga 6,1%, tetap berada di atas proyeksi nasional (4,9% – 5,7%). Pertumbuhan ini diharapkan dipicu oleh:

‎1.Penyelesaian proyek strategis seperti Bendungan Budong-Budong.

‎‎2.Pembangunan infrastruktur jalan daerah.

‎‎3.Peningkatan konsumsi melalui penambahan formasi ASN dan PPPK.

‎Melalui SIPAKADA Media, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah. Fokus utama ke depan meliputi penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pengembangan UMKM, serta kampanye Gerakan Bersama Jaga Inflasi (GERAI) guna mengantisipasi fluktuasi harga menjelang bulan suci Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. (Ammank-007)