Benang Kusut Kelompok Tani di Tiyuh Mulya Jaya

Majalahfakta.id – Petani di Tiyuh Mulya Jaya mengeluhkan kekurangan pupuk, salah satu petani yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “harga pupuk melampaui harga normal bahkan mereka menjual untung besar.

“Harga urea mencapai Rp 150 ribu lebih” ujar petani tersebut. Melanjutkan ceritanya, “bajak bantuan dari pertanian tahun 2016 dijual kelompok tani, ada bantuan cetakan bata bolong, jalan tani tidak di Wales dan dana simpan pinjam dari kelompok tani,” ujar warga tersebut.

Awal dikonfirmasi melalui telepon seluler Ponimin, Ketua Gapoktan Lestari Jaya merangkap ketua kelompok tani, tidak mengangkat telepon sampai berulang kali dan chatt whatsApp setelah dibaca lalu diblokir Ponimin.

Rabu, (08/12/2021) di rumah Ponimin Tiyuh Mulya Jaya memberikan konfirmasi, “pupuk itu dijual untuk kelompok tani, kami menjual sesuai harga net anjuran pemerintah. Kemungkinan mereka membeli di tempat lain bukan dari Gapoktan, ” kilah Ponimin.

Lanjutnya, memberikan penjelasan tentang bajak yang dijual kelompok tani, “itu tidak, bajak itu masih dikelola oleh kelompok tani.” Dan menanggapi pertanyaan cetakan bata bolong, “itu saya gak tau, tahun berapa juga saya gak tau.”

Selanjutnya jalan tani tahun 2018 yang tidak diwoles, ” kerjaan itu di woles karena mata saya sendiri yang melihat dan dekat rumah saya. Yang mengerjakan saya tidak tau, tau-tau besoknya sudah dibangun. Kalo yang mengawasi pak Danton orang sini.”

Lalu membahas dana Rp 100 juta yang hilang karena sebagai ketua Gapoktan ini adalah kelalaian seorang ketua, “uangnya dibawa kabur Tulus Widodo,” bentuk tanggungjawab Ponimin sebagai ketua,”saya sudah laporan ke balai tiyuh dan kepolisian tahun 2017 dan sudah diterima laporan saya. Tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan tentang kasus tersebut, ” pungkasnya.

Dana Rp 100 juta bantuan tahun 2011 dari Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang Barat untuk Gapoktan di tiyuh Mulya Jaya, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Dana tersebut sudah dikembangkan kelompok tani sampai tahun 2012, setelah monitoring laporan uang itu disetorkan ke bank dan dari bank akan ditarik kembali untuk dikembangkan kembali tetapi dana tersebut dibawa kabur Bendahara Tulus Widodo. (wis/nrl/oln)