Daerah  

Bada Kupat, Tradisi Syawalan Sarat Makna di Tegal: Simbol Maaf dan Kebersamaan

FAKTA – Tradisi Ba’da Kupat yang digelar sepekan setelah Idul Fitri masih terus lestari di tengah masyarakat Jawa, khususnya di Kabupaten Tegal. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Syawalan yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga sarat makna spiritual.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Ki Haryo Susilo Enthus Susmono, melalui telpon pada Minggu (22/03/2026) menjelaskan bahwa Ba’da Kupat bukan sekadar tradisi makan ketupat bersama, melainkan simbol refleksi diri setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.

“Ketupat itu berasal dari istilah ngaku lepat, artinya mengakui kesalahan. Ini adalah momentum masyarakat untuk benar-benar kembali bersih, tidak hanya secara lahir, tetapi juga batin,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan Ba’da Kupat yang umumnya dilakukan pada hari ketujuh bulan Syawal memiliki keterkaitan dengan puasa sunnah enam hari.

Setelah menyempurnakan ibadah tersebut, masyarakat merayakannya dengan penuh rasa syukur melalui tradisi kupatan.

Di berbagai desa di Kabupaten Tegal, Ba’da Kupat dirayakan dengan beragam kegiatan, mulai dari kenduri, doa bersama, hingga arak-arakan ketupat yang melibatkan warga. Suasana kebersamaan tampak kental, di mana masyarakat saling berkunjung dan berbagi hidangan.

Ki Haryo menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk akulturasi yang harmonis antara nilai-nilai Islam dan budaya Jawa. “Inilah kekayaan budaya kita. Agama tidak menghapus tradisi, tapi menyempurnakan maknanya,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Ba’da Kupat agar tidak tergerus modernisasi. “Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi? Tradisi ini bukan hanya warisan, tapi juga identitas,” tambahnya.

Dengan makna mendalam yang dikandungnya, Ba’da Kupat menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia adalah simbol persatuan, saling memaafkan, serta pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. (sus)