Apakah Teknologi Membuat Sopir Menjadi Bodoh ?

Dengan piranti navigasi satelit pengemudi tinggal mengikuti panduan tak perlu repot-repot baca buku peta
Dengan piranti navigasi satelit pengemudi tinggal mengikuti panduan tak perlu repot-repot baca buku peta

MESTINYA piranti seperti navigasi satelit, biasa disebut satnav, membantu kita mencapai tujuan dengan lebih cepat.

Tapi kadang, alat bantu ini malah membuat kita lebih lambat, dalam beberapa kasus membuat kita, para pengemudi, tersesat.

Di Inggris, ada sopir truk besar yang terjebak di jalan sempit dan di pemukiman yang padat, ada juga yang bahkan masuk ke danau.

Survei yang dilakukan Michelin Travel Partners di Amerika Serikat memperlihatkan, para pengendara rata-rata 4,4 kali salah dipandu oleh satnav per tahun.

Di antara pengendara muda, kelompok usia yang paling sering memanfaatkan aplikasi peta atau satnav di telepon genggam, angkanya lebih tinggi lagi.

Di antara para pengemudi muda ini, rata-rata 6,3 kali salah dipandu oleh satnav per tahun.

Banyak yang mengatakan teknologi GPS – yang menjadi otak piranti satnav – tidak hanya menjadikan kita sopir yang buruk, tapi juga membuat kita bodoh.

Sepertinya pendapat yang ekstrem, tapi makin banyak orang yang mengatakan satnav mendorong kita tak lagi memanfaatkan akal sehat dan kesadaran spasial.

Padahal bukan seperti itu mestinya fungsi dan peran teknologi.

Berbagai teknologi masuk ke dalam mobil, mulai dari power steering hingga sistem pengeremen canggih, membuat komputasi mobil modern lebih hebat dari pesawat ruang angkasa generasi awal.

Tentu ada banyak sisi positif dari pemanfaatan teknologi karena teknologi harus diakui membuat mobil menjadi jauh lebih aman dan nyaman.

Tapi pada saat yang sama, karena kita terlalu tergantung dengan teknologi, kita tak memberikan perhatian sepenuhnya terhadap apa yang terjadi di sekitar kita ketika menjalankan kendaraan.

Malas belajar

Selain memberikan panduan yang salah, ada efek lain yang tak kalah membahayakan dari piranti satnav.

Survei yang dilakukan surat kabar Inggris, The Mirror, menemukan bahwa 1,5 juta pengendara tiba-tiba berubah arah ketika menuruti perintah satnav tanpa mencermati mobil-mobil yang ada di sekitar mereka.

Bila tak cermat satnav malah bisa membuat kita tersesat
Bila tak cermat satnav malah bisa membuat kita tersesat

Dan sekitar 300.000 pengemudi mengalami kecelakaan karena mengikuti instruksi satnav.

Juga ada masalah yang diakibatkan oleh ketergantungan terhadap satnav ini.

Para pengemudi yang biasa menggunakan satnav punya kemungkinan lebih besar untuk tersesat ketika mereka menyetir kendaraan tanpa alat ini.

Dampak satnav terhadap kemampuan alamiah kita untuk melakukan navigasi sudah menjadi pemikiran para ahli dalam beberapa tahun terakhir.

Kita tahu bahwa teknologi mengganggu fungsi otak.

Dalam konteks satnav, kita didorong tak terlalu menghafal rute-rute yang kita lalui dan karenanya tak ada gambaran tentang rute dan tempat di otak kita.

Di sisi lain kalau kita menggunakan buku peta, maka otak kita akan berfungsi secara penuh. Kita “dipaksa” untuk melihat dan mencermati tanda-tanda atau penunjuk jalan.

Dengan kata lain otak kita “sadar dan aktif” sepenuhnya sementara kalau kita menggunakan satnav, otak kita menjadi lebih pasif. Fungsi kognitif otak tiba-tiba saja terambil alih.

“Ini memang sangat menggoda. Toh hanya mengikuti instruksi satnav. Tapi yang terjadi adalah otak kita mengurangi beban kognitif dengan mengalihdayakan tugas navigasi,” kata Julia Frankenstein, peneliti di Universitas Freiburg di Jerman.

“Kalau Anda tak menganggap perlu pentingnya menyimpan informasi spasial di otak, maka otak tak akan menyimpan informasi ini,” imbuhnya.

Kemampuan mental

Apakah satnav atau piranti berbasis GPS membuat kita “menutup mata” ? Jawabannya bisa jadi adalah ya.

Dalam kajian yang dilakukan Universitas Nottingham, Inggris, orang-orang diminta mengemudi melalui simulator ke satu lokasi.

Disimpulkan bahwa orang-orang yang menggunakan satnav kesulitan menggambar rute perjalanan, sesuatu yang tak terjadi bagi mereka yang mengemudi berdasarkan buku peta.

Kita, menurut para ahli, lahir dengan kemampuan internal untuk membaca peta dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Ketergantungan yang berlebih terhadap satnav bisa membuat kemampuan itu “menganggur”, demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan tim ilmuwan di Universitas McGill.

Kesimpulan kajian di Kanada ini memperkuat temuan serupa oleh ilmuwan Inggris di University College London, Eleanor Maguire, yang melakukan kajian dengan melibatkan para sopir taksi di London pada 2000.

Para sopir taksi di London dikenal punya daya ingat yang hebat atas berbagai jalan di ibu kota Inggris ini
Para sopir taksi di London dikenal punya daya ingat yang hebat atas berbagai jalan di ibu kota Inggris ini

Mereka dikenal sebagai salah satu navigator terbaik berkat pengalaman secara bertahun-tahun menjelajah jalan-jalan di London.

Penelitian Maguire menunjukkan, di bagian otak hippocampus para sopir taksi ini, terdapat lebih banyak area berwarna abu-abu dibandingkan kebanyakan orang.

Kita tahu hippocampus adalah bagaian otak yang berfungsi memproses informasi dan memori spasial.

Di sektor transportasi udara, data yang dikumpulkan organisasi keselamatan penerbangan menunjukkan banyak kecelakaan udara yang disebabkan pilot terlalu menggantungkan diri dengan mode autopilot dan gagal memantau dengan benar aneka instrumen yang ada di kokpit.

Karena itu berbagai maskapai penerbangan selalu meminta pilot untuk menggunakan mode manual ketika mendaratkan pesawat.

Dengan begitu para pilot akan selalu ingat dengan kemampuan manual mengemudikan pesawat, yang sangat diperlukan ketika menghadapi situasi yang kompleks. (BBC Indonesia) www.majalahfaktaonline.blogspot.com / www.majalahfaktanew.blogspot.com