Harmoni Pasundan di Bumi Arema: Wali Kota Wahyu Hidayat Ajak Warga Perantau Perkuat Fondasi Ekonomi dan Toleransi

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat memberikan sambutannya dalam kegiatan Halal Bihalal Paguyuban Pasundan Jatim. (Foto: F1116/majalahfakta.id)

FAKTA – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menghadiri acara Halal Bihalal Paguyuban Pasundan Wilayah Jawa Timur yang diselenggarakan di Aula Kudam V Brawijaya, Kota Malang, Sabtu (11/4). Dalam kesempatan tersebut, Wahyu menekankan pentingnya kontribusi warga perantau dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kerukunan sosial di Kota Malang.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 400 keluarga besar Paguyuban Pasundan dari berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk Jombang, Probolinggo, dan Jember. Turut hadir mendampingi Wali Kota antara lain Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar, Kepala Dinas Pendidikandan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana, serta Kadiskominfo M. Nur Widianto, Camat Blimbing Nina Sudiarty, dan Lurah Kesatrian Basuki.

Dalam sambutannya, Wahyu Hidayat mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan komunitas Pasundan. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar kapasitas jabatan, melainkan juga sebagai bagian dari keluarga besar Sunda melalui garis keturunan ayahnya yang berasal dari Tasikmalaya.

“Paling tidak saya mewakili ayah saya yang sudah almarhum untuk bisa hadir di tengah-tengah Bapak sekalian. Tentu beliau akan senang karena saya bisa kumpul dengan keluarga besar Sunda yang ada di Kota Malang ini,” ujar Wahyu.

Ia juga mengajak seluruh warga perantau untuk merasa memiliki Kota Malang sepenuhnya. Wahyu menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang sangat terbuka dan siap memfasilitasi kebutuhan warga demi terciptanya toleransi yang harmonis.

“Walaupun pendatang atau perantau, jadikanlah Kota Malang ini menjadi tempat seperti berada di Jawa Barat. Jangan merasa orang asing, karena kita saling berinteraksi dengan baik dan punya toleransi yang baik. Kesundaan adalah bagian dari kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia,” tambahnya.

Wahyu Hidayat juga menggarisbawahi dampak ekonomi dari keberadaan sekitar 300 kepala keluarga asal Jawa Barat di Kota Malang. Menurutnya, komunitas ini memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur ekonomi lokal melalui berbagai sektor usaha.

“Kami yakin bahwa Bapak sekalian yang bekerja di Kota Malang ini berkontribusi aktif terkait dengan perekonomian yang ada di Kota Malang. Tentunya saya berterima kasih karena memperkaya dan meningkatkan perekonomian kota,” tegas Wahyu.

Sementara itu, Penasehat Paguyuban Pasundan Jawa Timur, Sholeh Kawimintorogo, menyatakan komitmen organisasinya untuk terus mendukung visi Malang sebagai kota metropolitan yang inklusif. Ia menekankan bahwa Paguyuban Pasundan harus menjadi teladan dalam menerapkan semangat “Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh”.

“Dalam konteks inilah Paguyuban Pasundan memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai budaya sekaligus memperkuat jembatan sosial yang menghubungkan berbagai latar belakang,” kata Abah Sholeh sapaan akrabnya.

Abah Sholeh juga memberikan masukan strategis terkait tantangan ekonomi global saat ini. Ia mendorong agar Pemkot Malang terus mempermudah akses bagi pelaku ekonomi kerakyatan, khususnya UMKM, dalam hal administratif dan perizinan.

“Mengingat Malang adalah barometer nasional, menjaga toleransi dan kelestarian hubungan antarwarga menjadi kunci utama untuk mempertahankan kenyamanan hidup di kota ini,” pungkasnya. (F.1116)