Daerah  

Ironi di Balik Viral Mikutopia: Mengikis Ikonik Apel Kota Batu Demi Ambisi Wisata Modern

Wahana Wisata Mikutopia Kota Batu (foto: F.1015/majalahfakta.id)

FAKTA – Gemerlap lampu dan viralnya destinasi wisata baru, Mikutopia, di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, kini menyisakan awan mendung bagi identitas agraris Kota Batu. Dibalik kemacetan panjang yang kerap mengular di ruas Jalan Raya Tulungrejo, setiap akhir pekan, tersimpan sebuah kegelisahan yang lebih mendalam, hilangnya lahan legendaris ikon apel demi wahana buatan.

Selama puluhan tahun, Tulungrejo dikenal sebagai jantung dari komoditas apel yang menjadi ruh pariwisata Kota Batu. Namun, kehadiran Mikutopia menjadi sinyal merah bagi para pemerhati lingkungan dan warga lokal. Lahan yang dulunya merupakan hamparan pohon apel hijau kini bertransformasi menjadi destinasi wisata modern berskala besar.

Alih fungsi lahan ini dinilai kontradiktif dengan jargon pemerintah yang terus mengampanyekan penyelamatan apel Batu. Saat berbagai pihak berjuang memulihkan produktivitas apel yang kian menurun, aset desa yang sangat luas justru dikonversi menjadi wisata “instan” yang mengandalkan keramaian massa.

Meski terlihat diterima dengan tangan terbuka, riak penolakan sebenarnya terjadi di akar rumput. Namun, ketakutan akan stigma sosial membuat banyak warga memilih untuk menyimpan kekhawatiran mereka di dalam hati.

“Banyak yang tidak setuju, tapi memilih diam. Takut mendapat stigma dari yang mendukung. Padahal yang kami pikirkan adalah masa depan desa dan identitasnya,” ungkap Parno salah seorang warga Desa Tulungrejo pada Rabu (1/4/2026).

Kegelisahan warga ini bukan tanpa alasan. Mereka melihat perubahan wajah desa yang semula tenang dan asri, kini berubah menjadi padat, bising, dan kehilangan jati diri agrarisnya.

Lahan yang kini ditempati Mikutopia bukanlah lahan sembarangan. Kawasan seluas 7 hingga 8 hektare tersebut merupakan Tanah Kas Desa (TKD) yang memiliki nilai strategis tinggi. Selama lebih dari satu dekade, lahan ini disewakan kepada pihak ketiga dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta per tahun.

Kini, dibawah bendera Mikutopia, lahan produktif tersebut sepenuhnya berubah wajah. Wahana modern menggantikan rimbunnya pohon apel, sebuah pertukaran yang oleh sebagian warga dianggap sebagai “menjual masa depan untuk keuntungan sesaat.”

Mikutopia memang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi kas desa dan menciptakan lapangan kerja baru. Namun, harganya dinilai terlalu mahal jika harus dibayar dengan terkikisnya identitas Kota Batu sebagai Kota Apel.

Persoalan ini memunculkan desakan kuat bagi Pemerintah Kota Batu dan Pemerintah Desa untuk melakukan kaji ulang terhadap arah pembangunan pariwisata. Jika alih fungsi lahan produktif terus dibiarkan tanpa kendali, dikhawatirkan di masa depan apel Batu hanya akan menjadi dongeng dan nama jalan, tanpa ada satu pun pohon yang tersisa.

“Menjaga keseimbangan antara investasi dan pelestarian bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan,” pungkasnya.

Tantangan kini ada di tangan pemangku kebijakan, mampukah mereka memajukan ekonomi tanpa harus menghancurkan akar budaya dan alam selama ini menjadi ikon yang menghidupi mereka. (F. 1015)