Daerah  

Di Atas Rakit dan Janji Jembatan: Warga Anduriang Menunggu Akses Pulih Pascabencana

Jembatan putus, warga Anduriang menggantungkan mobilitas pada rakit darurat berbahan drum. (foto: Syafrial Suger/Majalah Fakta.id)

FAKTA — Hampir lima bulan setelah bencana banjir bandang dan galodo menerjang Kecamatan 2×11 Kayu Tanam pada November 2025, denyut kehidupan di tiga nagari yankni, Kayu Tanam, Anduriang, dan Guguak masih tersendat. Ambruknya Jembatan Anduriang tak sekadar memutus bentangan baja, tetapi juga mengisolasi sekitar 30 ribu warga dari akses vital ekonomi dan sosial.

Di tepian sungai yang kini menjadi batas, warga menggantungkan mobilitas pada rakit darurat berbahan drum. Di sanalah, aktivitas harian dipertaruhkan pada keseimbangan dan arus air yang tak selalu bersahabat.

“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh,” kata Afrizal, Ketua Pemuda Nagari Anduriang. Ia menyebut, inisiatif tersebut lahir dari kebutuhan mendesak, bukan pilihan ideal.

Dengan ongkos seikhlasnya, mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000 rakit itu menjadi penghubung sementara bagi pelajar, pedagang, hingga petani. Namun, di balik fungsinya, tersimpan risiko keselamatan yang nyata, terutama saat debit sungai meningkat.

Pemerintah daerah tak menutup mata. Bupati John Kenedy Azis memastikan langkah darurat segera diambil melalui pembangunan jembatan Bailey, bekerja sama dengan Polda Sumatera Barat dan Korps Brimob.

“Awal April kita mulai pembangunan jembatan darurat agar akses masyarakat kembali normal,” ujar John Kendy Azis.

Jembatan Bailey dipilih sebagai solusi cepat di tengah keterbatasan. Dansat Brimob Polda Sumbar, Lukman Syafri Dandel Malik, menjelaskan konstruksi akan membentang sepanjang sekitar 60 meter dengan lebar 4 meter, hasil penggabungan dua unit jembatan modular.

Tak hanya memasang rangka, tim juga akan memperkuat pondasi di kedua sisi sungai dengan peninggian hingga tiga meter. Langkah ini menjadi antisipasi atas potensi banjir susulan yang masih membayangi wilayah tersebut.

“Ini bagian dari percepatan rehabilitasi pascabencana, agar masyarakat tidak terlalu lama terisolasi,” kata Lukman.

Meski demikian, jembatan Bailey hanya bersifat sementara. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat disebut tengah menyiapkan pembangunan jembatan permanen, yang kini memasuki tahap perencanaan.

Bagi warga, waktu adalah persoalan utama. Setiap hari tanpa jembatan berarti tambahan biaya, jarak tempuh yang lebih jauh, dan risiko yang terus mengintai.

“Kalau harus memutar jauh, sangat menyulitkan. Harapan kami jembatan segera selesai,” ujar Syamsuwir, warga setempat.

Di Anduriang, rakit-rakit itu masih akan beroperasi, setidaknya hingga rangka baja Bailey benar-benar berdiri. Hingga saat itu tiba, warga tetap menyeberang, membawa harapan yang sama: agar akses yang hilang segera kembali, dan kehidupan bisa berjalan normal seperti sediakala. (ss)