Lautan Nahdliyin Sambut Presiden Prabowo, Stadion Gajayana Saksi Sejarah 1 Abad NU

FAKTA – Stadion Gajayana, Kota Malang, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah pada Minggu pagi (8/2/2026). Di bawah langit Jawa Timur yang sejuk, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir di tengah-tengah ratusan ribu jemaah dalam acara Mujahadah Kubro, sebuah momentum sakral yang menandai genapnya satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU).

Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan simbol kuat menyatunya kekuatan spiritual ulama dan kekuatan eksekutif negara—sebuah kolaborasi yang disebut-sebut sebagai modal utama menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Rangkaian kehadiran Presiden dimulai sejak Sabtu malam (7/2/2026). Pesawat Kepresidenan mendarat di Lanud Abdulrachman Saleh tepat pukul 18.41 WIB. Meski hujan mengguyur bumi Arema, semangat penyambutan tidak surut. Dengan mengenakan safari cokelat khasnya dan peci hitam, Presiden Prabowo menuruni tangga pesawat disambut hangat oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), serta Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Momen menarik terjadi saat Presiden dan Gus Yahya berjalan bersisian di bawah lindungan payung biru Paspampres. Kedekatan ini seolah memberikan pesan awal tentang keharmonisan hubungan antara pemerintah dan organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. Presiden kemudian melanjutkan perjalanan menuju hotel menggunakan kendaraan taktis Maung RI-1 berwarna putih, yang disambut meriah oleh warga di sepanjang jalan.

Puncak acara terjadi pada Minggu pagi pukul 06.50 WIB. Saat mobil Maung RI-1 memasuki area Stadion Gajayana, lebih dari 100 ribu jemaah Nahdliyin yang telah memadati stadion sejak dini hari spontan berdiri. Mereka bersorak dan bertepuk tangan, menciptakan gemuruh yang menggetarkan stadion tertua di Indonesia tersebut.

Dari atas sunroof mobilnya, Presiden Prabowo melambaikan tangan dan sesekali menyalami jemaah dengan penuh kehangatan. Dalam sambutannya yang emosional, Presiden mengungkapkan bahwa berada di tengah-tengah NU selalu memberinya kekuatan batin.

“Setiap kali saya berada di tengah-tengah Nahdlatul Ulama, saya selalu bahagia dan semangat. Saya merasakan kesejukan, saya merasakan getaran hati saudara-saudara sekalian. Di sini ada semangat persatuan, semangat guyub, dan harapan besar atas bangsa yang adil,” ujar Presiden Prabowo dengan nada bergetar.

Gus Yahya dalam keterangannya menegaskan bahwa kehadiran Kepala Negara adalah refleksi dari visi NU untuk masa depan. Baginya, satu abad ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan penegasan bahwa NU tetap menjadikan NKRI sebagai markas perjuangan untuk membangun peradaban dunia yang lebih mulia.

“Kehadiran Presiden adalah simbol sinergi kuat untuk mengawal Indonesia Merdeka menuju peradaban yang lebih mulia,” tulis Gus Yahya dalam unggahan yang viral di media sosial.

Senada dengan hal tersebut, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz menyebut momentum ini sebagai bersatunya Ulama dan Umara. “Ini adalah modal penting bagi bangsa ini untuk menuju kejayaan di masa depan,” pungkasnya.

Acara ini juga menjadi ajang berkumpulnya para petinggi negeri. Tampak hadir mendampingi Presiden, antara lain: Ahmad Muzani Ketua MPR RI, Sjafrie Sjamsoeddin Menteri Pertahanan, Nasaruddin Umar Menteri Agama, Saifullah Yusuf Menteri Sosial/Sekjen PBNU, Jenderal Listyo Sigit Prabowo Kapolri, Letkol Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet.

Suasana mencapai titik puncaknya saat doa bersama (mujahadah) dipanjatkan. Di bawah pimpinan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, ribuan jemaah tertunduk khusyuk, melangitkan doa untuk keselamatan bangsa, kemakmuran rakyat, dan kedaulatan NKRI yang abadi.

Perayaan Harlah ke-100 NU di Malang ini merupakan rangkaian lanjutan setelah sebelumnya PBNU sukses menggelar acara serupa di Istora Senayan, Jakarta. Dengan berakhirnya Mujahadah Kubro ini, NU secara resmi melangkah masuk ke abad kedua dengan komitmen yang semakin kokoh sebagai pilar penjaga persatuan bangsa. (Fur)