FAKTA — Akses menuju Nagari Sungai Buluah Timur, Kabupaten Padang Pariaman, masih terbatas pascabencana banjir dan longsor yang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025. Kondisi itu terlihat saat Anggota DPRD Padang Pariaman Hasan Basri, S.Pd.I., M.Pd. meninjau langsung wilayah terdampak, Kamis (29/1/2026).
Perjalanan menuju nagari tersebut kini harus memutar lebih jauh. Jika sebelumnya dapat ditempuh melalui jalur Simpang Kuliek atau jembatan gantung di depan Kantor Camat Batang Anai, saat ini kendaraan harus melewati Korong Simpang Apa, Nagari Sungai Buluah Utara, dan menyeberangi satu-satunya jembatan beton yang masih berfungsi menuju kawasan Lubuk Alung Timur dan Batang Anai Timur.
Setelah menyeberangi jembatan, jalan beraspal hotmix masih terlihat dalam kondisi baik. Namun, memasuki wilayah Sungai Buluah Timur, kondisi jalan berubah menjadi berbatu dan dipenuhi kerikil. Hasan Basri menyebutkan, jalan tersebut sebelumnya telah diaspal, tetapi rusak akibat terjangan banjir.
Usai pertemuan dengan pemerintah nagari dan masyarakat setempat, Hasan Basri meninjau sejumlah objek vital yang terdampak bencana, di antaranya jalan dan jembatan, permukiman warga di bantaran sungai, serta Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Batang Anai.
Di SDN 05 Batang Anai, aktivitas belajar mengajar masih berlangsung meski fasilitas sangat terbatas. Rombongan diterima oleh Lisa Rifendi, S.Pd., guru olahraga yang ditunjuk sebagai pelaksana tugas kepala sekolah. Dari total 94 siswa kelas I hingga VI, Lisa merupakan satu-satunya guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di sekolah tersebut.
Lisa menjelaskan, pada 27 November 2025 sekitar pukul 09.00 WIB, gedung sekolah terendam banjir dan dilanda longsor dari bukit di sekitar lokasi. Seluruh ruang kelas, ruang guru, dan ruang kepala sekolah ambruk tertimbun tanah berlumpur. Tidak ada korban jiwa karena kegiatan belajar mengajar diliburkan akibat cuaca ekstrem.
Saat ini, kegiatan belajar dilakukan di ruang perpustakaan yang menjadi satu-satunya bangunan permanen yang tersisa. Selain itu, telah dibangun ruang kelas darurat, dua unit bantuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan lima unit lainnya hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Namun, ruang kelas darurat tersebut masih belum dilengkapi dengan mobiler seperti meja, kursi, dan lemari belajar.
Menanggapi kondisi tersebut, Hasan Basri yang merupakan alumni SDN 05 Batang Anai menyatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman untuk mendorong pembangunan kembali sekolah tersebut secara permanen.
“Jika jalan tidak amblas, jarak sekolah ini ke Jalan Raya Padang–Bukittinggi hanya sekitar satu kilometer. Saat ini sudah dibangun jalan dan jembatan darurat yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua,” ujar Hasan Basri, anggota DPRD Padang Pariaman yang telah menjabat sejak 2014.
Peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya pengawasan dan penyerapan kondisi lapangan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dan layanan pendidikan pascabencana di wilayah Batang Anai. (SS)






