FAKTA — Bendungan Irigasi Lubuak Jambu di Durian Dangka, Nagari Sikucua Tangah, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, kembali luluh lantak setelah galodo Batang Nareh menerjang kawasan itu pada Kamis (28/11/2025). Bangunan yang telah puluhan tahun menjadi penyangga kehidupan ekonomi warga tersebut runtuh, menyisakan kecemasan mendalam bagi petani dan masyarakat setempat.
Air bah yang datang tiba-tiba menggerus tebing sungai, memicu longsoran besar. Lima rumah kini berada persis di bibir jurang, hanya menunggu hujan berikutnya untuk menentukan apakah pondasinya mampu bertahan. Ratusan hektare sawah yang bergantung penuh pada irigasi itu kini kering total sejak bendungan jebol.
Bendungan yang dibangun pada era Bupati Anas Malik pada 1980-an dan telah melewati tiga kali perbaikan itu sebelumnya menjadi ikon wisata alami. Setiap akhir pekan, kejernihan air Lubuak Jambu menarik warga dan pelancong untuk mandi, berlibur, hingga berdagang. Ekonomi kecil tumbuh—warung hidup, parkir ramai, dan pedagang lokal kembali berdenyut.
Namun kini, pemandangan itu tinggal kenangan. Yang tersisa hanya puing-puing beton, retakan tanah, dan kekhawatiran yang menggantung di wajah warga.
“Kami benar-benar butuh air sekarang. Tetapi bendungan jebol dihantam galodo gadang,” ujar Fuji, seorang petani yang kini hanya bisa pasrah menunggu hujan untuk menyelamatkan tanaman padinya. Ia khawatir gagal panen ratusan hektare sawah tinggal menunggu waktu, Kamis (4/12/2025).
Kekhawatiran serupa disampaikan ninik mamak setempat. Tokoh masyarakat Durian Dangka, Rosman Roal, memperingatkan bahwa ancaman kini bukan hanya bagi pertanian, tetapi juga keselamatan warga.
“Jika banjir besar datang lagi, tujuh rumah itu bisa hanyut. Bahkan pondasi Jembatan Rajang Berayun yang dekat lokasi juga terancam,” kata Rosman, mantan kepala desa dan pensiunan ASN tersebut.
Ia menegaskan bahwa rehabilitasi bendungan tidak boleh ditunda. Menurutnya, tindakan cepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan sawah, rumah, dan infrastruktur penting di sepanjang Batang Nareh.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah tanggap darurat dan penanganan permanen. Mereka tidak ingin kampung mereka kembali masuk daftar bencana. (ss)






