FAKTA – Budi Arie Setiadi kembali dipercaya memimpin Projo untuk periode 2025–2030.
Dalam Kongres III yang digelar di Jakarta pada 1–2 November 2025, ia terpilih secara aklamasi—tanda bahwa para relawan masih menaruh kepercayaan penuh padanya.
Dukungan itu menjadi sinyal kuat bahwa kiprah Budi Arie selama ini dianggap mampu menjaga soliditas dan arah gerakan Projo di tengah perubahan politik nasional.
Budi Arie menegaskan bahwa Projo akan bertransformasi menjadi organisasi yang lebih mandiri.
Ia meluruskan persepsi lama bahwa Projo bukan berarti “Pro-Jokowi”, melainkan singkatan dari “Pro Demokrasi dan Jokowi Media”.
Tak berhenti di situ, Budi juga menyebut akan mengganti logo Projo yang menampilkan wajah Jokowi, sebagai simbol bahwa organisasi ini siap melangkah ke babak baru tanpa ketergantungan pada satu figur politik.
Menariknya, Budi juga mengisyaratkan niat untuk merapat ke Partai Gerindra.
Ia mengaku sudah meminta restu kepada para relawan sebelum mengambil langkah tersebut.
Menurutnya, keputusan ini bukan sekadar soal partai, tapi soal bagaimana Projo bisa memperluas perannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat lewat jalur politik yang lebih luas.
Langkah Budi ini pun menuai beragam tanggapan. Beberapa pengamat menilai, bergabungnya ke Gerindra bukan hanya manuver politik, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat posisi dan perlindungan politik pasca-era Jokowi.
Dengan kekuatan Gerindra di pemerintahan, keputusan itu dinilai realistis dan penuh perhitungan.
Meski arah politiknya akan berkembang, Budi menegaskan bahwa semangat kerelawanan tak akan pudar.
Ia ingin Projo tetap menjadi rumah bagi masyarakat yang peduli terhadap demokrasi dan perubahan, tanpa harus terikat pada sosok tertentu.
Kongres kali ini menjadi titik balik penting bagi Projo. Setelah satu dekade dikenal sebagai barisan pendukung Jokowi, organisasi ini kini bersiap menapaki jalan baru di bawah komando Budi Arie—lebih mandiri, lebih luas, dan siap menghadapi dinamika politik masa depan. (F1)






