FAKTA – Pagi itu, halaman Gedung Bina Satria tampak lebih ramai dari biasanya. Puluhan warga berjejer rapi, sebagian membawa tas belanja, sebagian lain sekadar datang untuk melihat-lihat. Di tangan mereka, daftar belanja sederhana: beras, minyak goreng, telur, dan ikan segar. Semua dengan satu harapan, harga yang lebih terjangkau dari pasar.
Hari itu, Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar Gerakan Pangan Murah, sebuah program yang dirangkai dengan peringatan Hari Pangan Sedunia, Hari Krida Pertanian, Hari Vaksin Rabies, serta kampanye Gemarikan. Bagi warga, kegiatan ini lebih dari sekadar acara seremonial.
Siti Mariam, ibu rumah tangga asal Landasan Ulin, mengaku senang bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih ramah kantong. “Berasnya lebih murah, ikannya segar, lumayan meringankan. Apalagi sekarang harga di pasar naik-turun,” katanya sembari menggendong anaknya yang masih balita.
Disisi lain, wajah-wajah muda dari kelompok tani milenial ikut menyemarakkan acara. Mereka membawa produk hasil kebun dan perikanan, mulai dari sayuran organik hingga kopi lokal. “Kami ingin buktikan, bertani itu bisa modern, bisa jadi masa depan. Apalagi ada dukungan dari pemerintah,” ucap Ahmad, salah seorang petani muda yang baru dua tahun mengelola kebun kopi.

Dalam sambutannya, Penjabat Sekda Banjarbaru, Sirajoni, menekankan pentingnya pangan bergizi untuk membentuk generasi yang sehat. Pemerintah, katanya, sudah menyiapkan instrumen hukum mulai dari Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan hingga cadangan pangan daerah. Semua dirancang untuk memastikan Banjarbaru tetap tangguh di tengah tantangan iklim dan pasar.
Data menunjukkan, luas tanam padi di Banjarbaru mencapai 1.733 hektar dengan realisasi tanam hampir 85 persen. Sektor perkebunan juga terus berkembang, dari karet hingga kopi. Yang menarik, lebih dari 200 petani milenial kini ikut menggerakkan roda pertanian berbasis teknologi.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, turut hadir memberikan penghargaan sekaligus bantuan bagi para pihak yang berjasa di bidang pangan dan pertanian. Kehadirannya menambah semangat, sekaligus menjadi simbol bahwa pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga tentang kepedulian.
Bagi warga yang hadir, Gerakan Pangan Murah adalah ruang pertemuan: antara kebijakan pemerintah, kerja keras petani, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Di balik angka dan regulasi, ada cerita tentang dapur yang tetap mengepul, anak-anak yang bisa makan lebih bergizi, dan harapan agar Banjarbaru tetap mandiri di masa depan. (Stany)






