Ketika Emosi Mengunci Akal, Mengapa Orang Pintar pun Bisa Jadi Bodoh ?

Ilustrasi.

FAKTA – Bodoh bukan berarti tidak tahu. Justru kebodohan yang paling berbahaya lahir dari keengganan untuk tahu.

Dalam dunia yang penuh informasi seperti hari ini, kebodohan bukan lagi perkara keterbatasan akses, tetapi perkara pilihan.

Pilihan untuk menutup pikiran, menolak dialog, dan bersikukuh pada keyakinan meski sudah terbantahkan oleh bukti yang jelas dan logis.

Kita sering menemui orang yang terjebak dalam benteng keyakinannya sendiri—bukan karena kurangnya data, tapi karena ketakutan untuk salah, ego yang terlalu rapuh untuk dikoreksi, atau fanatisme yang menyamakan kritik dengan serangan pribadi.

Dalam kondisi seperti itu, diskusi apa pun menjadi buntu. Kata-kata tak masuk, logika tak menembus.

Yang berbicara bukan akal sehat, tapi emosi yang sudah dipersenjatai oleh rasa nyaman atas “kebenaran” versi dirinya sendiri.

Mereka tidak kekurangan informasi. Yang kurang adalah keberanian untuk berpikir jujur.

Untuk mengakui, “Mungkin aku salah.” Itu bukan tanda kelemahan, tapi justru puncak kedewasaan intelektual. Dan tidak semua orang berani sampai di titik itu.

Mark Twain pernah menyindir, “It ain’t what you don’t know that gets you into trouble. It’s what you know for sure that just ain’t so.”

Ini bukan sekadar lelucon sarkastik, tapi peringatan keras: bahwa bahaya terbesar bukan datang dari ketidaktahuan, tetapi dari keyakinan palsu yang tak mau diuji.

Ironisnya, orang yang paling keras mempertahankan kebodohannya sering merasa paling pintar.

Mereka bersandar pada gelar, pengalaman, atau suara mayoritas, seakan semua itu adalah bukti kebenaran absolut.

Padahal, intelektualitas sejati bukan soal menang debat atau merasa tahu segalanya—tetapi soal kerendahan hati untuk terus belajar, menggugat diri, dan membiarkan fakta, bukan perasaan, yang memimpin arah berpikir.

Dunia tidak kekurangan orang cerdas. Yang langka adalah orang cerdas yang cukup rendah hati untuk berubah pikiran.

Jadi, saat kita berhadapan dengan seseorang yang menolak realitas meski bukti sudah ditumpuk setinggi langit, mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggapnya bodoh karena tidak tahu. Mungkin dia bodoh karena memilih untuk tetap begitu. Dan itu, adalah kebodohan yang tak bisa diajari.

Penulis :

H. Maidarofa

Wartawan Majalah Fakta Pasuruan