Daerah  

Mengenang Kemasyhuran Empu Supo, Lamongan Tempoe Doeloe Angkat Potensi Tosan Aji

FAKTA – Tosan Aji adalah senjata pusaka tradisional yang dimiliki setiap daerah di Nusantara. Istilah ini merujuk pada segala macam senjata tradisional, yang terbuat dari besi dan dianggap sebagai Pusaka.

Adapun secara fisik tosan aji bisa berupa senjata yang mewakili daerah asalnya, misalnya ada yang berupa cundrk, kujang , rencong atau keris.

Secara umum tosan aji diciptakan tidak hanya sebagai senjata tapi juga sebagai sifat kandel bagi pemiliknya, Yaitu sesuatu yang dapat membangkitkan keberanian, keyakinan bagi pengagem atau pemilik tosan aji tersebut.

Tosan aji diciptakan untuk berbagai kebutuhan, contoh ada keris yang bisa dipergunakan untuk membantu pertanian, rentenir, untuk kekuasaan, kewibawaan dan lain sebagainya tergantung energi dari sang pencipta keris untuk apa keris itu dibuat.

Makin tinggi tingkat spiritual dari sang empu makin hebat pula kekuatan keris yang diciptakan sebagai piandel yang di agem/ dipakai.

Adapun salah satu empu keris yang legendaris dan terkait dengan kemasyhuran Lamongan adalah Empu Supo yang dipercaya hidup pada abad ke 14. Ia disebut empu pembuat keris ampuh masa peralihan era Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Demak.

Berdasar cerita tutur (rakyat), Empu Supo adalah pembuat keris era Majapahit. Ketika muda, dia bernama Supo Mandrangi. Keris karya Empu Supo menjadi masterpiece hingga pusaka raja atau bangsawan seperti keris Sengkelat, Carubuk, Umyang Jimbe, dan lain sebagainya.

Empu Supo Mandrangi juga bernama Raden Joko Supo. Dia salah satu putra Pangeran Sedayu. Kini daerah Sedayu diperkirakan berada di wilayah Gresik bagian Utara dan masih ada petilasan peninggalan empu supo.

Dari versi lain, Empu Supo yang beristri 2, yakni Dewi Rasawulan adik Sunan Kalijaga. Dan yang ke-2 putri Blambangan yang diyakini bermukim di Desa Sendang, Paciran. Konon dari perkawinan ini lahirlah seorang putra yang memiliki kehebatan melebihi sang ayah dalam bab membuat pusaka.

Jejak sejarah inilah yang mewartakan bahwa dalam dunia tosan aji, pusaka bertuah, di Lamongan adalah salah satu punjernya. Untuk itulah sudah waktunya Lamongan mengangkat potensi tosan aji itu sebagai warisan budaya keluhurnya.

Hal tersebut dipaparkan Gus Nur Cholis dari Padepokan Nur Langit, Keset, Lamongan saat mengikuti Pameran Lamongan Tempo Doeloe (LTD) 2023 dalam rangka HJL ke-454, di Lapangan Gajahmada, 8-10 Juni 2023 kemarin.

Mereka ini tergabung dalam Paguyuban Tosan Aji PANJI Lamongan ini pun unjuk gigi dengan menggelar puluhan keris dan benda pusaka lainya sehingga banyak menyita perhatian para pengunjung Lamongan Tempoe Doeloe.

Paguyuban Panji ini sudah familier dan terkenal di kota soto karena sering mengadakan pameran. Dan di organisasi inilah Gus Nur Cholis didapuk sebagai Pembina Paguyuban Tosan Aji Panji.

Dengan paguyuban ini, para praktisi dan kolektor tosan aji bisa berdarma bakti sebagai pelestari tosan aji di Lamongan , yang memang banyak para pecinta benda bertuah dari leluhurnya.

“Masih banyak fungsi lain, seperti wadah komunikasi, informasi dan kerjasama antar paguyuban di tanah air, pemberdayaan dan pengembangan, gelar pameran budaya, seminar, sarasehan, diskusi-diskusi, pelatihan, dll. Dan ini yang tak kalah penting, yakni nilai ekonomi atau bisnis, yakni kreativitas perdagangan tosan aji dan pengembangan pasar,” katanya.

Esensinya, masih menurut Gus Nur, bahwa program Bupati Lamongan, Pak Yes,  untuk meningkatkan UMKM, alih-alih Dunia Tosan Aji pun siap untuk bereksestensi dan berpartisipasi dalam meramaikan usaha yang langka ini

Hal yang sama dikatakan Ki Niam praktisi tosan aji dari Kalanganyar, yang berharap Pemkab atau otoritas terkait bisa memfasilitasinya.

“Melihat animo pengunjung di pameran. Memang sekarang ini, tidak semua keris diburu karena mempunyai kekuatan mistis. Para kolektor keris berlomba lomba mengkoleksi keris, karena bentuk dan nilai sejarahnya,” tukasnya.(ari)