Daerah  

Ditemukan 21 Ekor Sapi Terpapar PMK di Pasar Hewan Bumiayu, Brebes

Tim penanggulangan PMK Kabupaten Brebes melakukan upaya pencegahan di Pasar Hewan Bumiayu.

FAKTA – Tim penanggulanan PMK
Pemerintah Kabupaten Brebes gencar  melakukan  pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat, peternak dan pedagang, serta pengunjung di pasar hewan Bumiayu, Brebes.

Hal itu disampaikan Ir Tri Budi Wibowo koordinator tim Pelaksana penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari Dinas Peternakan dan Kesehatan (Diswan) Kabupaten Brebes ,saat  melakukan kegiatan  di Pasar hewan Bumiayu, Senin (01/08/2022).

Tri mengimbau agar masyarakat  mewaspadai Penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)  karena kondisi hewan peliharaan sangat rentan dengan PMK.

“Sebelumnya penularan virus PMK pada umumnya melalui sesama hewan seperti kambing dan hewan seperti sapi kerbau, kini virus PMK ternyata bisa tertular melalui  tubuh  manusia, ” kataBudi.

Ditambahkan ketika Sarman (45) warga Petujah Kalinusu  Bumiayu bertandang ingin melihat situasi  pasarwage (27/07/2022) Ia melihat lihat sapi yang sedang pasarkan.

Sarman pulang  dari pasar hawan langsung menuju kandang sapinya , ternyata dua hari setelah itu   2 ekor sapinya telah terkena suspec PMK, kini sapi peliharaanya  masih dalam penelitian perawatan Diswan tim  pencegahkan PMK Brebes, untuk Kalinusu saat ini ada 11 ekor sapi yang terkena suspec PKM imbuh Tri.

Ketua  Operasi (Kasops) PMK Brebes untuk Brebes selatan , AKP Heri Riyanto ,SH didampingi
Kanit  IK  Aiptu Budiatmaja dan Aiptu Tarjono dalam  razia menjelaskan bahwa pelaksanaan pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hari  Senin (01/08/2022) telah menemukan  21 ekor sapi yang terkena suspect PMK dengan perincian Tegal 11 ekor,Banyumas 4 ekor,Cilacap 1 ekor Brebes 1 ekor,Pemalang 4 ekor.

Sementara  drh. Muhammad Irham Bagus didampingi drh.Saifi Fitriya , dalam melakukan penanggulangan dan sosialisasi menyampaikan
Kewaspadaan  Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) penting untuk  disampaikan oleh petugas peternakan petugas pasar hewan, dan koordinator penyuluh petugas  kepada masyarakat .

Melakukan tracking dan surveillans penyakit ,di pasar hewan, kelompok ternak, dan peternak mandiri. Serta, memperketat pemeriksaan antemortem dan postmortem di RPH terus akan di lakukan,” terang Irham.

Pihaknya akan terus berupaya melakukan upaya pencegahan untuk mengantisipasi terjadinya penyakit tersebut.

“Karena pencegahan lebih baik dari pada mengobati,” pungkasnya.(dun)