
KEPEMIMPINAN Kades Wadang, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, bersinergi dengan Kasun Wadang, Fauzan, membuahkan semaraknya pembangunan desa yang berpenduduk terbanyak se-Kecamatan Ngasem.
Kekompakan saling mengisi dan rela mengeluarkan dana sendiri sebelum dana pembangunan turun, itulah bagian dari suksesnya pembangunan. Bahkan bila terjadi pembekakan dana rencana yang dianggarkan itu pun bukan jadi alasan tidak menuntaskan program yang sudah disosialisasikan kepada warga. “Walau saat dana turun, tinggal plung plung plung membayarkan ke toko. Angger mendekati habis tinggal piye mbah wo (kasun), dana kita nipis, masih adakah solusi. Senang saya, insya Allah, kita butuh beberapa lagi, ada. Ya sudah lanjutkan,” ujar Kades Wadang, Yakup, yang beristrikan seorang bidan.

“Begini lo ya, kalau dirunut dalam lagunya Bang Haji Rhoma Irama,’Gali Lobang Tutup Lobang’, tetapi lancar-lancar saja karena yang dipinjami percaya, alasannya untuk membangun desa, begitu dana turun langsung dibayar. Begitu juga kwalitas bangunan juga tak perlu diragukan, sebab membangun desa sendiri kok mengurangi mutu, yo jangan dilakukan hal yang saru begitu. Pada masyarakat harus mempertahankan nilai-nilai kepercayaan. Mereka (warga) butuh pembuktian atas janji yang sudah didengar. Sebab janji adalah bagian dari hutang. Ringan diucapkan tapi berat dalam tanggungan, citra manusia ada dalam ucapan. Sebelum membuat janji harus dipikir matang-matang, karena keteledoran atas janji maka akan hilang/lenyap kepercayaan itu. Wayahe pengerjaan kita berdua (kasun dan kades), yo dadi mandor juga, pak kades nunggoni TPT ,sedangkan kami nunggui bangunan gedung, gantian, kalau untuk pengecoran masjid mengawasi bersama sama,” kata kasun.
Dijelaskan oleh Kades Wadang yang punya motto,”Nrimo (menerima) & Sabar” ini bahwa urugan lapangan dengan banyaknya tanah sekitar 2.400 (dua ribu empat ratus) rit dump truck, seandainya full beli (bukan truk sendiri), berapa biayanya ? Karena 2 armada milik sendiri maka bisa kompetitif, sehingga cost/biaya per rit cuma Rp 250.000,- (tanah, solar, sopir). Ini Alhamdulillah sinergi lahir batin, dikukuhkan yakni berangkat haji bersama, ikrar mulai daftar, tapi ijek suuuuwi, doakan Mas supaya lebih cepat,” harap Kades Yakup sambil mandori tukang membuat TPT.
“Ini DD (dana desa) tahap 2, yakni lapangan dan TPT. Berapa ukurannya ? Kami tidak bisa pakai kira-kira, soal ukuran itu pasti, cuma kaur ren (Yudi), ijin KKM di kantor. Ini TPT belum selesai dengan 8 tenaga (3 tukang, 5 pembantu tukang), lokasi RT 18 dan RT 22. Soal paving halaman balai/kantor desa belum dianggarkan, kalau BKD belum turun. Sedangkan jalan poros itu sudah alih status jalan kabupaten, sehingga soal kapannya ya tidak berani menyebutkan. Semua dana yang konotasinya harus diwujudkan, entah itu DD, ADD maupun dari TKD. Sedangkan lantai 2 Gedung PKK ini dari CSR sebesar Rp 110.000.000,- ukuran 7meter x 14 meter. Perihal PBB Rp 87.500.000,- sudah terlunasi, sampai-sampai BAPPEDA mengapresiasi sebagai satu-satunya desa di wilayah Ngasem yang utama lunas PBB. Pokoknya kami dan Mbah Wo akan selalu mewujudkan program yang sudah dicanangkan. Sampai-sampai ra mikir gaji. Begitulah. Kalau DD pertama untuk 2 (dua) gorong-gorong, paving 2 lokasi, bahkan ada yang hanyut tergerus bencana. Piye Mbah Wo ? Eksekusi langsung. Padahal saat itu untuk srawun belum saatnya dikeluarkan,” papar Yakup.
“Secara prosentase, pembangunan adalah untuk seluruh wilayah, tetapi karena terlalu luasnya desa, banyaknya jalan tembus maupun lorong dan yang belum terpaving tinggal satu gang di Dusun Mundu. Memang mengutamakan krajan Wadang, karena paling aktif dan jadi barometer dan simbol desa yakni Wadang. Terus terang ae, kami tanpa Mbah Wo Wadang, Fauzan, kuwalahan,” aku Kades Yakup tanpa basa-basi.
“Pelayanan administratif lancar-lancar saja, intinya sesuai sumpah jabatan kades 6 tahun. Dalam kurun waktu 6 tahun tekadnya sebagai kades adalah mengabdi pada masyarakat. Sebab mau menerima gaji, tunjangan, juga harus mau melaksanakan tugas dan kewajiban serta mempertanggungjawabkan segalanya yang sudah jadi niat. Harapan kami yakni ke depan mau ataupun tidak mau, nggih monggo, yang penting kami selalu berupaya tidak mengecewakan mereka. Sebab, apik belum tentu diterima, elek belum tentu ditolak. Tinggal masyarakat sendiri yang menentukan, yang penting kita sudah berbuat untuk mereka. Soal jalan poros kabupaten bukan kewenangan kami, karena tahun 2016 sudah berubah status. Apik kalah karo duwit, duwit karo politik, maka bisa jadi juga apik dan politik campur duwit, butuh,” ulas Kades Yakup mengakhiri perbincangan dengan Wartawan Majalah FAKTA, Eko Purnomo.

“Bisa jadi wayahe mbangun desa ini ambegan gedhe, sebab kejar tayang. Memang pembelian herbelik/bata ringan 14 m3, selisih harganya lumayan banyak jika belinya mesisan koral 10,5 ton. Soal lapangan memang di Dusun Mundu tetapi statusnya lapangan desa. Kalau soal jalan poros itu sudah dalam persetujuan dan juga melalui musdes, lebar 7 meter. Tapi sekali lagi itu bukan otoritas kades. Cuma ini ada kendala, memang konon tahun ini mulai start tetapi kemungkinan ada sesuatu, kalau CV-nya sudah siap tinggal klunthing saja. Pokok sesuk Selasa (13/8/2019) ngecor masjid. Ya, membangun sarana urusan dunia dan juga sarana akhirat. Karena implementasi dari doa sapu jagat,” sambung Kasun Fauzan yang pernah jadi santri kinasih KH. Muhhajir.
Menurut Staf Desa Wadang, Hariyono, bersama Kades Wadang, Yakup, mengalir saja. “Saat tugas ya tugas beneran, saat jam istirahat ya istirahat.
Camat Ngasem, Waji SE MM, memberikan dukungan positif. Menurutnya, Desa Wadang letaknya secara geografis adalah desa terjauh jangkauannya dari ibu kota kecamatan. “Maaf, kami berdinas di sini belum ada sebulan, maka belum hafal sepenuhnya. Balai desa dan kantor desanya masih banyak tukang. Wadang ibarat pilot dan co pilotnya sinergi, maka semoga semuanya lancar sesuai harapan, terutama warga Wadang. Gitu ya mas, ini orientasi desa belum semua karena banyaknya kegiatan di kabupaten”. (F.463)






