Ganti Langse Wujud Pelestarian Budaya Tradisi Di Kabupaten Ngawi

DESA Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, mengadakan Prosesi Adat Ritual Ganti Langse yang merupakan wujud Pelestarian Budaya Tradisi di Kabupaten Ngawi. Ganti Langse dilaksanakan hari Senin Pahing, 15 Muharam 1440 H (24/9/2018).

Diawali Kirab 2 Gunungan dari Dusun Nanggalan yang diarak jalan kaki menuju Palenggahan Agung Srigati. Paling depan Pasukan Drumband MTsN 5 Ngawi diikuti Atraksi Reog. Di belakangnya ratusan Pendekar dengan membawa 2 Gunungan berisi sedekah bumi hasil panen, disusul para bapak-bapak dan ibu-ibu memakai busana adat Kejawen dengan membawa pusaka dan berbagai sesajian diiringi Juru Kunci Srigati, Suyitno, berjalan kaki dengan membawa Langse Baru. Di belakangnya Kereta Kencana Bupati Ngawi, Ir H Budi Sulistyono, dan istri, Hj Antiek Budi Sulistyono SH, diiringi Kereta Camat Paron, Setiyono BA, bersama istri dan barisan paling belakang Kereta Kepala Desa Babadan, Joko Setyono. Arak-arakan ini sangat meriah disambut ribuan masyarakat dan anak-anak sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA UPT Dispendik Kecamatan Paron yang berjajar rapi di kiri-kanan jalan yang dilewati Kirab 2 Gunungan ini.

Hal ini dijelaskan Kasi Seni dan Budaya Disparpora Kabupaten Ngawi, Sulistiyono SSos. “Prosesi Adat Ritual Ganti Langse atau Ganti Selambu merupakan simbol kehidupan manusia, harus terus berganti tiap tahunnya, ada perubahan dan perkembangan. Langse berupa ‘mori’ putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo Srigati merupakan tradisi tahunan setiap bulan Suro atau Muharam. Tradisi ini penuh syarat magis, digelar secara khidmat penuh penghayatan, diawali dengan penyerahan Langse Baru berupa kain selambu ‘mori’ warna putih bersih sepanjang 15 meter dari Juru Kunci Srigati, Suyitno, diserahkan kepada Bupati Ngawi, Budi Sulistyono, kemudian diserahkan kepada Kepala Desa Babadan, Joko Setyono, yang sore harinya dipasang untuk mengganti Langse yang lama,” jelasnya.

Setelah acara Kirab selesai dilanjutkan acara Ruwatan Masal melalui Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ruwatan Kondang Kaloko Ki Salam dari Karangjati.

Bupati Ngawi, Budi Sulistyono, dalam sambutannya mengatakan, sejak dua tahun ini prosesi ritual Ganti Langse dikemas lebih menarik sebagai destinasi wisata budaya yang menjadi agenda tahunan setiap bulan Suro. Hal ini untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Kabupaten Ngawi tepatnya Srigati, sekaligus memperkenalkan budaya Ganti Langse di Palenggahan Agung Srigati menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Tujuannya untuk mengeksplorasi budaya di Kabupaten Ngawi.

“Saya berharap tradisi budaya Ganti Langse akan menjadi mercusuarnya budaya Ngawi. Sama halnya dengan tradisi budaya yang digelar di daerah lain seperti tradisi Maulud di Solo maupun Grebek Suro di Ponorogo,” ujar Bupati Budi Sulistyono.

Kepala Disparpora Kabupaten Ngawi, Rahmad Didik Purwanto SSos MSi, sebagai leading sector Adat Ganti Langse Palenggahan Agung Srigati menuturkan, setelah ritual Ganti Langse ini dilakukan dilanjutkan Kendurian (bahasa Jawa : Bancaan) Nasi Buceng dengan berbagai sesajian yang merupakan persembahan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa  dipimpin pemangku adat setempat. “Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembagian Langse kepada masyarakat yang konon mempunyai banyak khasiat. Dalam acara Ganti Langse dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam-suntuk dengan dalang terkenal PEPADI Kabupaten Ngawi, Hartoni, yang malam sebelumnya juga meriahkan pagelaran Kethoprak Puspo Budhoyo pimpinan Tony dari Ngawi,” tuturnya. (ADV/Dinas KOMINFO NGAWI/Prastiwi)